Ramadhan dan Kesalehan Keluarga
Tanpa terasa setengah bulan Ramadhan telah berlalu. Ada baiknya kita mulai bermuhasabah diri, apakah target-target amalan Ramadhan yang sudah kita rencanakan sudah tercapai? Bagaimana shaum atau puasa, tarawih dan tilawah kita. Jangan-jangan Ramadhan berlalu begitu saja dan kita lalai untuk menggapai barakahnya. Bagaimana pula dengan keluarga kita, apakah kita sudah merengkuhnya untuk bersama-sama menggapai barakah bulan suci ini? Atau kita adalah orang-orang yang egois, hanya memburu kesalehan diri dan melupakan orang-orang yang menjadi tanggung kita agar ikut saleh bersama kita. Miris rasanya ketika saya melihat fenomena di masyarakat, ketika sang ayah dan ibu khusuk membaca Al Qur’an selepas shalat subuh, sementara itu anak gadisnya pergi entah ke mana bersama teman prianya berbonceng naik sepeda motor sambil berpelukan. Atau di lain waktu sang ayah pergi ke masjid shalat isya dan tarawih namun ia membiarkan istri dan anaknya menonton televisi dengan tayangan yang merusak akidah dan akhlak.Kita lupa pada firman Allah SWT dalam QS. At Tahrim ayat 6, yang artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” Yang diperintahkan oleh Allah kepada kita tidak hanya memelihara diri kita dari api neraka, tetapi kita juga diperintahkan untuk memelihara keluarga kita dari api neraka. Tanggung jawab untuk memelihara keluarga dari api neraka terutama menjadi tanggung jawab sang ayah. Ayah berkewajiban untuk mendidik anggota keluarga terutamanya agar tidak mempersekutukan Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Lukman ayat 13 yang artinya : “Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar perbuatan yang zalim.” Dalam ayat ini jelas sekali dicontohkan bagaimana Lukman, seorang ayah, melakukan pengajaran terhadap anaknya. Jadi mendidik anak bukan semata menjadi tugas ibu. Jadi ketika zaman sekarang masih ada seorang ayah yang masih berlepas diri dari terhadap pendidikan anaknya maka ingatlah akan ayat ini. Lalu bagaimana dengan tugas ibu ? Apakah seorang ibu dengan demikian bisa berlepas diri dari mendidik anaknya? Tentu tidak ! Lihatlah keluarga Ibrahim, bagaimana Nabi Ibrahim mempunyai seorang anak sesaleh Ismail, yang bersedia ditebas lehernya karena ayahnya mendapat wahyu dari Allah untuk melakukan hal tersebut (walau Allah kemudian menggantinya dengan domba yang gemuk) tidak terlepas dari peranan Siti Hajar, Istri Ibrahim, ibu dari Ismail, yang telah mendidik Ismail sementara Nabi Ibrahim meninggalkannya di padang tandus untuk pergi berdakwah. Ramadhan adalah Syahrul Ibadah dan Syahrut Tarbiyah, bulan ibadah dan bulan pendidikan. Oleh karena itu sangatlah tepat bila di bulan ini kita jadikan momentum tidak hanya meningkatkan ibadah kita pribadi tetapi kita juga mendidik keluarga kita untuk bersama- sama beribadah kepada Allah. Sebagaimana tafsir yang dikemukakan oleh Ali bin Abi Thalib RA terhadap QS At Tahrim di atas bahwa cara untuk memelihara keluarga kita dari api neraka adalah dengan mendidik dan mengajari mereka. Dengan demikian berarti tugas mengajar, mendidik, dan memberikan tuntunan sama artinya dengan upaya untuk meraih surga. Sebaliknya, menelantarkan hal tersebut berarti sama dengan menjerumuskan diri ke dalam neraka. Al Ghazali Rahimullah dalam bukunya yang berjudul Ihya ‘Ulumuddin telah menyebutkan : “Perlu diketahui bahwa jalan untuk melatih anak-anak termasuk urusan yang paling penting, dan harus mendapat prioritas yang lebih dari yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orangtuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya ia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa.”
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak itu dilahirkan menurut fitrahnya, maka kedua orang tuanya lah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, seorang Nasrani atau seorang Majusi’ (HR Bukhari). Alangkah indahnya bila ayah dan ibu bisa saling bekerja sama untuk mendidik anak dan meningkatkan kesalehan keluarga. Saling menyimak tilawah suami-istri, saling mengingatkan untuk meningkatkan hafalan Al Qur’an, mengajarkan membaca Al Qur’an pada anak-anak, pergi shalat tarawih bersama-sama, senantiasa menegakkan shalat fardhu berjamaah dalam keluarga, membimbing anak agar kuat untuk melaksanakan puasa, mengajarkan anak untuk berinfaq dan berbagi. Subhanallah, alangkah indahnya. Bukankah kita ingin masuk surga bersama keluarga kita ? Sudahkah kita merengkuh keluarga kita untuk bersama-sama mencapai kesalehan keluarga? Jika belum, masih ada dua pekan ke depan untuk memperbaiki diri, tidak hanya berusaha untuk mencapai kesalehan pribadi tetapi juga untuk mencapai kesalehan keluarga. Insya Allah. (-)