PEKANBARU-Bencana banjir yang melanda Provinsi Riau hingga Jumat (29/12) masih belum surut. Jumlah warga masyarakat yang mengungsi juga dilaporkan meningkat. Setidaknya, menurut data Posko banjir Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau, jumlah pengungsi sampai saat ini tercatat 2.026 Kepala Keluarga (KK). Menurut data yang diperoleh Riau Mandiri melalui Kepala TU BKS Riau, Syahruddin, total 2.026 KK pengungsi itu berasal dari empat kabupaten di Riau meliputi Kampar 1.388 KK, Inhu 427 KK, Rohul 30 KK dan Pekanbaru 181 KK. Sementara rumah masyarakat yang terendam akibat banjir mengalami penurunan 10.927 rumah, dari 38.170 rumah menjadi 27.243 rumah.”Untuk saat ini mengenai data pengungsi dan rumah terendam akibat bencana banjir ini masih terus berubah-ubah karena kita terus mengumpukan data dari posko di kabupaten dan kota yang mengalami bencana banjir ini. Namun berdasarkan data hari ini, jumlah pengungsi berjumlah 2.026 KK dengan 27.243 rumah terendam banjir,” kata Syahruddin. Disebutkan, untuk kecamatan terendam banjir sesuai data kemarin, Kabupaten Kampar 6 kecamatan dengan 22 desa dan 3.995 rumah terendam, Inhu 7 kecamatan, 39 desa dengan 9.237 Rumah terendam, Rohul 2 kecamatan dan 8 desa dengan 1.500 rumah terendam, Rohil 7 kecamatan dan 30 desa dengan 3.928 rumah, Pekanbaru 6 kecamatan dan 12 kelurahan, Kuansing 2 kecamatan dan 7 desa dengan 80 rumah, Pelalawan 4 kecamatan dan 16 desa dengan 2.165 rumah, Inhil 1 kecamatan dan 1 desa dengan 23 rumah, Dumai 2 kecamatan dan 2 desa dengan 165 rumah terendam.
Sementara penyaluran bantuan tanggap darurat hingga 29 Desember kemarin, untuk 7 kabupaten dan kota telah disalurkan 133 ton beras. Ketujuh kabupaten ini adalah Kabupaten Kampar 68 ton beras, Rohil 25 ton, Inhu 5 ton, Rohul 15 ton, Kuansing 5 ton, Pekanbaru 5 ton, Pelalawan 10 ton. “Sedangkan penyaluran bantuan untuk 7 daerah tersebut berupa mie instans berjumlah 12 ribu kardus, minyak goreng 3.100 botol, sarden 25.800 kaleng, kecap 21.120 botol dan sambal 21.120 botol,” jelas Syahruddin.
Naik Lagi
Sementara itu dari Bangkinang dilaporkan, permukaan air sungai Kampar Kiri kembali naik hingga mencapai 10-15 cm, akibat tingginya curah hujan di daerah hulu sungai. Sebelumnya, beberapa hari terakhir permukaan air sungai Kampar Kiri khususnya yang berada di wilayah kecamatan Kampar Kiri sudah kembali normal, namun karena curah hujan permukaan air kembali naik. Camat Kampar Kiri Drs Darusmar, MSi ketika dihubungi Riau Mandiri kemarin mengakui bahwa permukaan air kembali naik dari posisi normal. “Sekarang permukaan air sungai kembali naik sekitar 10 cm dari posisi normal,” ujar Darusmar.
Diungkapkan Darusmar, beberapa hari terakhir, permukaan sungai Kampar Kiri sudah berada pada kondisi normal. Masyarakat sudah mulai beraktifitas seperti biasanya dan masyarakat juga sudah membersihkan rumah dan perkarangan mereka dari sisa-sia banjir. Meski di Kampar Kiri berlalu, namun hingga kini masih ada 5 desa yang masih terisolir karena terputusnya jalur transportasi darat. Jalan tidak bisa ditempuh oleh kendaraan roda dua apalagi roda empat. Kelima desa itu yakni, Desa Lubuk Agung, Muara Selaya, Sei Rambai, Sei Sarik dan Sei Raja.” Sebenarnya lima desa itu pada saat banjir kemarin tidak ikut terendam, tapi jalur darat kesana terputus hingga kelima desa itu terisolir”, ujarnya. Jalur darat yang tidak bisa dilalui itu hanya sekitar 2 Km. Ketika banjir kemarin, untuk menempuh jarak 2 Km itu harus memakai sampan. Bagi yang ingin menyeberangkan kendaraan roda dua harus merogok kocek Rp100.000 untuk sekali jalan. Kini walau tidak dalam kondisi banjir, namun untuk mengangkut kebutuhan pokok harus dipikul dengan biaya cukup tinggi seperti satu karung beras dikenakan biaya angkut mencapai Rp200.000.
Alhasil, sekarang harga kebutuhan pokok di lima desa tersebut melonjak naik. Beras yang biasanya hanya Rp5.000/Kg dijual mencapai Rp12.000/Kg, begitu juga bahan kebutuhan lainnya seperti minyak tanah, gula, minyak goreng, cabe dan sebagainya. Untuk mengatasi kelangkaan kebutuhan pokok solusi terbaik adalah menggelar operasi pasar. Camat Darusmar mengaku telah mengajukan kepada dinas perindustrian perdagangan dan pasar untuk menggelar operasi pasar. “Kita telah ajukan surat secara resmi untuk menggelar operasi pasar, karena itulah solusi terbaik saat ini,” jelas Darusmar. Namun secara keseluruhan untuk wilayah kecamatan Kampar Kiri saat ini, pihaknya fokus kepada penanganan pasca banjir, seperti antisipasi timbul dan menyebarnya penyakit yang diakibatkan banjir diantaranya gatal-gatal, diare karena sudah ada keluhan dari beberapa orang warga yang gangguan penyakit kulit dan diare.
Pekanbaru
Sementara itu banjir yang melanda di Pekanbaru juga semakin mencemaskan warga. Paling tidak di Kecamatan Meranti Pandak, sebanyak 500-an KK terpaksa mengungsi ke badan yang lebih tinggi, karena ketinggian air di halaman rumah warga mencapai 2 meter dan rumah panggung tergenang air sekitar 1 meter. Warga yang berada di bantaran Sungai Siak yang membelah Kota Pekanbaru itu mulai mengungsi sejak pukul 13.00 WIB kemarin. Hingga sore warga terlihat masih menyelamatkan barang-barangnya dengan menggunakan sampan dan ban bekas. Akibat pengungsian warga di badan jalan, arus lalu lintas Jalan Yos Sudarso yang menghubungkan ke kawasan kota macet. Terjadi antrean kendaraan lebih dari 200 meter. Sebab badan jalan dijadikan tumpukan barang-barang dan parkir sepeda motor.
Selain Pekanbaru, di Kabupaten Pelalawan, ketinggian air juga meningkat khususnya di Kecamatan Langgam dan Pangkalan Kerinci. Bila sebelumnya air naik 1,5 meter, kemarin meningkat menjadi 2 meter. Terhadap kondisi itu Bupati Pelalawan H Tengku Azmun Jaafar, SH telah meminta kepada seluruh camat yang rawan bencana banjir melaporkan perkembangan terkini kepada Satlak dan posko penanggulangan bencana Kabupaten Pelalawan. “Saya instruksikan agar camat selalu melakukan kordinasi dengan Satkorlak tentang korban bencana banjir. Cepatnya dapat informasi, cepat pula langkah evakuasi yang kita ambil,” tutur Azmun. Camat Langgam Daniel dihubungi wartawan menginformasikan, naiknya air Sungai Kampar beberapa hari belakangan ini mengakibatkan sekolah diliburkan, seperti siswa Taman Kanak-kanak yang berada di wilayahnya sudah diliburkan. Tidak itu saja tambah camat, masjid Raya Langgam tak bisa dimanfaatkan untuk melakukan Sholat akibat banjir yang telah masuk kedalam tempat ibadah umat Muslim tersebut. “Meliburkan siswa TK kita lakukan untuk mengantisipasi anak-anak kecil tersebut terpuruk kedalam lobang, hingga menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan. Begitu dengan masjid yang telah digenangi air, membuat kami pesimis bisa melakukan shalat Idul Adha didalamnya, apalagi jika melakukannya dilapangan. Itu mustahil dilakukan,” ucapnya memprediksi. (ria,oni,kad,tun)