Sapi K2I Banyak yang Mati

TEMBILAHAN – Bantuan seratus ekor sapi K2I di Indragiri Hilir tahun anggaran 2006 lalu untuk dua kelompok tani tampaknya gagal dalam pengembangannya. Pasalnya, dari 100 ekor, 27 ekor di antaranya telah mati. Sedangkan yang lainnya saat ini dalam kondisi tidak sehat.Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Inhil, Kuswari, kepada Riau Mandiri, Rabu (14/11).

“Saat dibeli dulu, seratus ekor sapi tersebut dalam keadaan bunting semuanya. Namun yang berhasil sampai melahirkan hanya sekitar 16 ekor saja. Itu pun, hanya 8 ekor saja anaknya yang berhasil selamat. Sedangkan untuk induk yang masih hidup hanya tinggal 73 ekor lagi, itu pun dengan kondisi yang tidak sehat,”terangnya.

Dengan demikian, lanjut Kuswari, berarti proyek pengadaan bantuan sapi tahun 2006 lalu, bisa dikatakan gagal. “Kita tidak menafikan, proyek yang berhasil itu baru di Kota Pekanbaru. Sedangkan untuk Inhil, kita nilai gagal,” ujarnya.

Ketika ditanyai siapa yang harus bertanggung jawab dalam kegagalan itu, Kuswari, hanya menjawab, semua itu kesalahan petani. Karena menurutnya, pihak Dinas Pertanian hanya berkapasitas sebagai pembinaan yang juga sekaligus sebagai pengawas saja. “Kami hanya sebagai Pembina saja. Jadi, jika kami temukan cara-cara pemeliharaan yang tidak tepat, maka mereka akan kami berikan semacam pengetahuan. Karena sebagai Pembina, tentu lah kami juga sekalian yang menjadi pengawasnya,” lanjut Kuswari.

Ia jelaskan, gagalnya bantuan sapi ini, murni karena terjadinya cara pemeliharaan yang tidak bagus. “Jika saja pemeliharaannya bisa lebih bagus, tentulah sapi-sapi itu tidak akan mati dan beranak. Contohnya saja dulu, pernah saya mengunjungi tempat pemeliharaan sapi tersebut, ternyata di sana saya temukan kandang sapi itu dipenuhi lumpur,”jelasnya.

Tidak Mampu
Kuswari melanjutkan, dalam penerimaan bantuan sapi tersebut, sekitar 30 % nya diberikan kepada orang yang mampu. “Dari satu kelompok tersebut, harus terdapat paling tidak 30 % nya orang yang mampu atau kaya. Karena, dalam pemeliharaan sapi ini, kita lebih mengedepankan pengelolaan agro bisnis,” katanya.

Dijelaskannya lagi, alasan keputusan tersebut karena ia menganggap bahwa orang miskin tidak mungkin akan mampu mengelola sapi itu dengan baik. Coba bayangkan, jika para kelompok tani itu orang miskin semuanya, tentulah mereka tidak akan mungkin bisa mengelola sapi itu dengan baik. Karena, pemeliharaan sapi itu kan juga memerlukan biaya, seperti untuk membeli makanannya misalnya. Apakah mereka mampu nanti, mencarikan rumput untuk sapi sebanyak itu, terangnya.(Doli Novaisal)

This entry was posted in Indragiri Hilir. Bookmark the permalink.