Ikan Laut Langka
Bengkalis-Ratusan nelayan di Kecamatan Bantan dan Rupat beberapa pekan ini tak berani melaut. Kondisi ini disebabkan gelombang air laut yang tidak bersahabat, sehingga dikhawatirkan bisa membahayakan mereka. Seperti diutarakan salah seorang nelayan asal Kecamatan Bantan, Abu Samah. Menurutnya, sejak musim angin utara ini, gelombang air laut sangat besar, sehingga para nelayan lebih memilih mengistirahatkan perahunya. Bahkan hampir dua pekan ini, sebagian besar nelayan tidak berani mencari ikan karena takut hal-hal buruk terjadi di tengah laut.
Selama tidak melaut, sebagian besar nelayan memanfaatkan waktu yang ada untuk memperbaiki perahu dan jala yang rusak. Namun sebagian lagi, terpaksa harus mencari pekerjaan sampingan seperti mengambil hasil kebun kelapa. Tapi kata Abu Samah, bagi nelayan yang tidak memiliki kebun terpaksa harus menunggu waktu tenang untuk melaut. Nasib serupa dialami nelayan di Rupat Utara. Bahkan di daerah ini lebih parah lagi, hampir satu bulan ini nelayan tidak berani melaut. “Kami sudah hampir satu bulan tak berani melaut. Kami takut hal-hal buruk menimpa kami, lebih baik kami istirahat,” ujar salah seorang nelayan, Ujang.
Menurut Ujang, tak melaut berarti musim paceklik bagi nelayan sudah tiba. Otomatis, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari nelayan Rupat Utara yang jumlahnya ratusan orang terpaksa harus mengutang kepada juragan. Kemudian saat air laut sudah bersahabat, para nelayan bekerja kembali untuk membayar utang selama satu bulan kepada sang juragan.
Pasokan Ikan Merosot Dampak dari nelayan tidak berani melaut, menyebabkan pasukan ikan di pasar Bengkalis merosot. Bahkan dalam beberapa hari terakhir mereka memang tidak mendapatkan pasokan dari nelayan. Seperti dikatakan Aheng, biasanya dia menerima ikan-ikan segar dari sejumlah nelayan Kecamatan Bantan.
Namun beberapa hari terakhir ikan yang diterima sangat sedikit, itupun hanya untuk jenis tertentu saja. “Sekarang memang sedang ombak kuat, jadi jarang-jarang ada nelayan yang berani melaut. Makanya, ikan sulit didapat dan harganya sedikit naik,” kata Aheng. Kurangnya pasokan ikan laut di pasar tradisional juga dirasakan oleh Mazlina. Salah seorang ibu rumah tangga warga Senggoro ini mengeluhkan mulai sulitnya mencari ikan laut di kedai-kedai berhampiran rumahnya. Menurut pemilik sejumlah kedai seperti dikatakan Mazlina, mereka tidak berani mengambil ikan di pasar karena harganya lumayan tinggi. “Biasenye kedai belakang rumah ni banyak jual ikan, dan due hari ni ikan tak ade,” keluh Mazlina.
Seperti diberitakan harian ini, sejumlah nelayan Kecamatan Rupat juga tidak berani mengmabil resiko menangkap ikan di tengah laut, karena hantaman ombak semakin tinggi. Kalaupun ada nelayan yang berani melaut, jarak mereka pastinya tidak terlalu jauh dari pantai. “Hasilnya juga hanya cukup untuk makan sehari-hari,” kata Jefri warga Rupat.
Kesulitan Merapat Tidak hanya berdampak pada nelayan, dalam dua hari terakhir kapal feri penyebrangan KMP Tasik Gemilang, kesulitan saat merapat di dermaga. Hal itu disebabkan hembusan angin yang cukup kencang, sehingga menimbulkan ombak yang cukup besar.
Seperti dikatakan Kepala Kamar Mesin (KKM) Tasik Gemilang Wahyudi. Menurutnya, kapal roro sulit merapat akibat hembusan angin yang cukup kencang. “Terutama pada trif pagi, hembusan angin dua hari terakhir cukup besar, sehingga kan kapal sulit merapat,” terang Yudi, namun begitu kata Yudi kapal roro tetap berlayar sebanyak 4 trif seperti hari-hari biasanya.
Masih menurut Yudi, seperti disampaikan pihak BMG, ombak dan angin kencang masih akan berhembus hingga tanggal 5 mendatang. “Saya juga ingatkan kepada saudara saya, untuk sementara niatnya pergi berobat ke Melaka ditunda dulu, sampai laut kembali tenang,” ungkapnya. Di tempat terpisah, bos agen Batam Jet Bengkalis Yani Sakiman, saat dihubungi Rabu kemarin mengatakan, sejauh ini pelayaran kapal Dari Bengkalis-Batam masih berjalan normal. Pukulan ombak juga belum begitu membahayakan, sehingga pihaknya masih tetap melayari trayek tersebut. “Kondisi laut masih normal-normal saja, untuk itu kita belum mengambil langkah atau kebijakan apapun, terkait kondisi ini,” kata Aben panggilan Yani Sakiman.(adi)