Pengelolaan Taman Labuai
PEKANBARU-Komisi II DPRD Pekanbaru kembali mengingatkan pihak Perusahaan Daerah (PD) dalam pengelolaan Taman Labuai di Jalan Sudirman untuk mengakomodir tempat bagi pedagang jagung yang selama ini menempati kawasan tersebut.
“Jika penataan selesai dilakukan, pihak PD harus tetap konsisten memberikan tempat bagi pedagang jagung,” kata Ketua Komisi II DPRD Pekanbaru, Ir Syafri Effendi, Senin, (7/1) kemarin. Sejauh ini kawasan Taman Labuai itu masih dalam penataan yang melibatkan pihak III. Belum diketahui secara pasti kapan penyelesaian penataan tersebut lantaran PD belum memberikan kejelasan kepada pihak komisi II.
Tapi, yang terpenting adalah bagaimana pedagang yang semulai menyampaikan aspirasi kedewan dan sesua dengan pembahasan pihak PD tetap diprioritaskan. “Ada sekitar 25 pedagang yang menyampaikan aspirasi ke dewan agar mendapat tempat di kawasan itu,” kata Syafri.
Bahkan tambah Syafri, hendaknya tidak hanya memperhatikan pedagang jagung 25 orang itu saja, tetapi juga pedagang jagung di sekitar Purna MTQ yang berjualan dengan cara membuka tirai. Kondisi ini dikhawatirkan akan menimbulkan opini negatif karena nyaris dijadikan sebagai tempat gaul kalangan muda-mudi.
Mengenai pengelolaan Taman Labui itu sendiri komisi II sejak awal meminta tidak menojolkan bisnis semata, tetapi lebih kepada penertiban, karena jagung bakar itu juga bagian ciri khas di kota ini.
Sementara itu, anggota komisi II DPRD yang lain Parasian Sian Sinaga menegaskan, lokasi pedagang jagung yang dimanfaatkan untuk esek oleh kalangan muda-mudi itu harus ditertibkan. “Perlu survei terlebih dahulu, setelah dapat masalahnya, lakukan tindakan penertiban,” ujarnya.
Leter L
Sementara itu, Dirut PD Pembangunan M Ridwan sebelumnya menjelaskan, kawasan Taman Labuai itu yang itu akan dibentuk leter L, dimana kawasan utama diperuntukan untuk beragam jualan makanan/minuman dan souvenir.
Tersedia di akan tersedia fasilitas antara lain, Area jual makanan khas Cina, area khas Timur Tengah, Area PKL, Counter Jualan, Aksesories, mesjid, KM/WC, air mancur, dan lahan parkir. Serta kawasan untuk menampung pedagang jagung selama ini. “Kita benar-benar ingin kawasan itu tertata dan bisa menjadi kawasan representatif untuk dengan khas menunya,” katanya. (lah)