Masih Andalkan Muka Lama

Jumlah Atlet dan Target Medali Berbeda Jauh

PEKANBARU – 17 atlet dan empat medali emas, itulah jarak kesenjangan yang cukup siginifikan antara jumlah atlet yang dikirim dengan jumlah medali yang ditargetkan pada PON XVII 2008. Cukup disayangkan memang, apalagi jika melihat banyaknya nomor yang dipertandingkan pada tiga cabang, angkat besi,angkat berat dan binaraga. Namun demikian Pengurus Persatuan Angkat Besi/Berat dan Binaraga Indonesia (PABBSI) Riau menetapkan target tersebut berdasarkan kemampuan yang ada, yang dikaitkan dengan hasil Kejurnas (kualifikasi PON).

Bahkan target empat emas itupun masih belum ada jaminan dapat tercapai oleh 11 atlet angkat berat, dua atlet angkat besi dan dua atlet binaraga yang akan dikirim. Sama ketika PON XVI 2004 lalu di Sumsel, PABBSI Riau yang juga menurunkan 17 atlet saat itu gagal mencapai target 4 medali emas. Asrelawandi cs hanya meraih dua medali emas, satu perak dan empat perunggu.

Dari empat atlet yang ketika itu diharapkan mendulang empat medali emas hanya Fatmawati (angkat besi) dan Asrelawandi (binaraga) yang mampu memenuhinya. Sedangkan Erwin Abdullah (angkat besi) dan Bunadi (binaraga) gagal meraih medali emas. Erwin sendiri ketika itu gagal tampil akibat cedera, dan Bunadi hanya beruntung meraih perunggu kelas 70kg.

Melihat komposisi tim PABBSI Riau pada PON XVII 2008 nanti, atlet PABBSI Riau memang hampir berimbang antara atlet lama dan baru. Mantan atlet PON XVI 2004 yang masih tampil adalah sebanyak sembilan orang dan yang baru tampil adalah tujuh orang. Wajah-wajah lama tersebut adalah Asrelawandi dan Bunadi (binaraga), Heneldi Indra, Deriswan, Lana Jaya, Niken Yusandri, Vien Eka Putri, Nanda (angkat berat), Fatmawati (angkat besi). Sedangkan skuad baru PABBSI Riau adalah Rizky Afrinando, Satdul, Falinus Suha, Sadarman, Rini Maisuri, (angkat berat) David Syahril dan Vani Subianto (angkat besi).

Meksi dari segi pengalaman, atlet lama masih unggul tapi Riau jangan terlalu berharap, karena hampir seluruh daerah lain juga melakukan terobosan mengejar ketertinggalannya dan bertekad menjadi yang terbaik. Hampir semua atlet yang lama tergolong uzur, karena sudah berusia diatas 30 tahun. Bagi yang muda, Riau juga tidak boleh lengah. Bukti ketatnya persaingan pada cabang angkat berat dan angkat besi adalah ketika Kejuaraan Nasional (Kejurnas) junior 2007 yang diselenggarakan di Pekanbaru. Kalimantan Timur yang tidak ikut tampil pada Pra PON yang diselenggarakan sebelumnya, justru memperlihatkan kekuatannya di ajang ini.

“Waktu Kejurnas junior, Kaltim tidak turun. Tampaknya daerah ini meledak di PON nanti. Karena bisa jadi diam-diam mereka siapkan tim yang bagus. Begitu juga daerah lainnya seperti Lampung dan Kalbar juga cukup maju,” ujar Ketua Harian PABBSI Riau, Drs H sanusi Anwar.

Ancaman terhadap cabang angkat berat juga telah terlihat dari Pra POn yang diselenggarakan Mei tahun lalu di Jakarta, dari cabang ini Riau gagal membawa pulang medali emas. Riau hanya meraih 2 perak dari Lana Jaya dan Deriswan dan 2 perungggu dari Heneldi Indra dan Supertin.

Pelatih angkat berat Riau, Afriman mengatakan, pengalaman dari punggawa 2004 dan kontribusi dari pemain muda memang masih diharapkan. Meski di kategori junior, Riau terbilang sukses dari pembinaan atlet melalui Pusat pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Angkat berat dan Angkat Besi, namun untuk kategori senior memang masih perlu menunggu waktu karena untuk mencetak prestasi memerlukan waktu antara 5-10 tahun.

Bagaimanapun, sedikit banyak atlet dari PPLP telah mampu menjadi bagian kekuatan tim senior Riau pada PON 2008 nanti. Ada tujuh atlet dari binaan PPLP tersebut, bahkan Rizky Afrinando telah tampil pada POn 2004 yang lalu menggantikan Yusaldi akibat cedera.

Selain Rizky, juga ada Niken Yusandri dan Vien Eka Putri mantan atlet PON 2004. Sedangkan yang baru muncul di PON 2008 dari PPLP adalah Falinus Suha, Sadarman, Rini Maisuri, dan Vani Subianto.

Selanjutnya di cabang angkat besi, Pelatih Angkat besi Syahril mengatakan Fatmawati memang masih yang terbaik, tapi mengingat usia Fatmawati yang tidak muda lagi cukup dikhawatirkan, terutama rentan akan cedera. Sementara itu, David yang diharapkan bisa tampil maksimal, justru saat ini masih kesulitan dalam menjalankan program latihan karena terbentur izin kerja dari perusahaannya tempat bekerja.

Sedangkan di cabang binaraga, Asrelawandi yang namanya telah berkibar di jajaran Asia dan Asia Tenggara di nomor 60kg setelah beberapa kali memperkuat tim nasional, dan terakhir memepersembahkan medali emas di Sea Games 2007 memang masih diharapkan bersinar untuk ajang PON nya ke-5 kali ini. Selain itu, Bunadi yang akan tampil di kelas 65kg diharapkan dapat menunjukkkan peningkatan prestasi setelah gagal menyumbang emas di PON terdahulu.

“Cabang binaraga ini cukup sulit kita memprediksinya, karena tidak terukur apalagi tuan rumah kadang kala diuntungkan wasit. Meksi selama ini perwasitan di Indoensia sudah cukup bagus, tapi nggak tahu untuk PON 2008 nanti,” ujar Pelatih Binaraga Riau, H Zarmi Bachtiar yang juga merupakan pelatih nasional Indonesia.***(Akhir Yani)

This entry was posted in Skor. Bookmark the permalink.