Perikanan Kampar Belum Tergarap Maksimal
PEKANBARU-Kabupaten Kampar memiliki memiliki 2.112 hektar kolam ikan dan 410 kerambah sungai dan waduk. Sayangnya potensi perikanan khususnya budidaya ikan air tawar yang cukup besar tersebut, hingga kini belum tergarap maksimal. Hal itu dikatakan Kasi Budidaya Perikanan Kabupaten Kampar, Ir H Syafril usai pertemuan dengan Pemimpin BI Kantor Pekanbaru, Gatot Sugiono dengan jajaran perbankan Riau dan Direktur PT Kamparikom, Adhi Rahardi dan Focus Group Discussion, Kamis (12/6) di Kantor BI Pekanbaru.Pertemuan tersebut sebagai upaya pengembangan budidaya perikanan di Provinsi Riau dengan mengangkat tema, Memberdayakan Ekonomi Kerakyatan Melalui Pengembangan Perikanan Darat. Dari 2.112 hektar kolam budidaya, baru 606,28 hektar atau sekitar 28,71 persen lahan yang tergarap. Sedangkan untuk kerambah sungai dan waduk baru tergarap 8,7 hektar atau sekitar 2,12 persen saja. Untuk tahap pembangunan pabrik dan infrastruktur sepenuhnya dikerjakan PT Bonekom dengan total dana sebesar Rp45 miliar.
“Dengan kondisi ini pihak swasta dalam hal ini PT Bonekom yang telah 59 tahun bergerak dibidang pengolahan ikan laut di Jakarta menawarkan kerja sama pengolahan ikan air tawar. Tawaran ini kita sambut baik, dengan sistem konsorsium termasuk saham dengan pembagian, 38 persen saham Pemkab Kampar, 24 persen saham Pemprov Riau dan 38 persen saham PT Bonekom,” kata Syafril. Produksi budidaya perikanan yang ada di Kampar saat ini bisa menghasilkan 52 ton dari masyarakat dengan berbagai jenis ikan air tawar. Jika PT kamparikom ini beroperasi diperkirakan mampu memproduksi 30 ton pengolahan ikan per harinya, mulai dari pembibitan hingga filet dikelola PT kamparikom.
Sementara itu Adhi menjelaskan, orientasi pokok perusahaan ini adalah ekspor dengan kegiatan prosesing patin filet, namun dalam operasionalnnya nanti tak hanya ikan patin tapi berbagai jenis ikan air tawar. Produksi ikan dari Kampar ini akan menembus pasar ekspor khususnya negara Vietnam, dan eropa. Ditanya alasan memilih Kampar sebagai lokasi produksi ikan air tawar, Adhi mengatakan pihaknya sudah melakukan beberapa kali survey termasuk ke Jambi dan Palembang. Hanya Pemkab Kampar yang memberi respon positif dan didukung dengan potensi dan tingkat polutan sungai dan waduk Koto Panjang yang paling rendah, dibanding dengan sungai Siak.(vit)