PKS Abstain di Pilgubri



Chaidir: Saya Terima Kasih Dukungan Awal

PEKANBARU-Setelah sempat menyatakan mendukung pasangan Chaidir dan Suryadi Khusaini (CS), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akhirnya memilih abstain dengan tidak memberikan dukungan secara resmi kepada salah satu calon gubernur dan wakil gubernur di Pilgubri nanti. Informasi yang dihimpun Riau Mandiri menyebutkan, hingga pukul 00.00 WIB tadi malam, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau, tidak menerima bukti dukungan tertulis dari DPP PKS sebagai syarat sah sebuah dukungan untuk pasangan CS. “Kita tunggu sampai pukul 00.00 WIB malam ini (tadi malam, red), namun PKS tidak juga memberikan dukungan tertulis dari DPP-nya,” ujar Syamsul Djakfar Pokja Pendaftaran Pilgubri, Selasa (1/7).

Namun demikian, kata Syamsul, walaupun PKS tidak mendukung CS, tapi jumlah persentase suara mereka telah memenuhi persyaratan. Tiga partai yang sudah menyatakan mendukung CS adalah, PDIP dengan persentase 10,19 persen, PBB (4,17 persen) dan PNUI (1,12 persen). Dengan demikian total persentase suara ketiga partai pengusung CS mencapai 15,48 persen. Berarti, kata Syamsul, PKS menjadi satu-satunya partai politik yang tidak ikut mengusung secara resmi pasangan calon di Pilgubri tahun ini. Berdasarkan catatan Riau Mandiri, dukungan PKS sebelumnya memang menjadi rebutan sejumlah calon gubernur untuk digandeng di Pilgubri. Di antaranya, cagubri Thamsir Rachman, Rusli Zainal, Wan Abubakar hingga Chaidir. Namun akhirnya, PKS hingga batas waktu pencalonan berakhir tidak memberikan dukungan tertulis kepada salah satu calon.

Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Ketua DPW PKS Amin Triawan melalui telepon seluler, tadi malam, Amin mengatakan, PKS akan memberikan keterangan resmi Rabu (2/7) atau hari ini. “Tunggu saja besok keterangan resminya,” ujar Amin singkat.

Alhamdulillah
Sementara itu, H. Chaidir yang dihubungi malam tadi melalui selulernya mengakui, sebelum deklarasi, dirinya sudah dikirimkan surat dari DPW PKS Riau yang diketahui Korwil DPP PKS yang mendukung dirinya maju. Namun masih menunggu syarat lainnya yakni menunggu SK penetapan dari DPP PKS. “SK itulah yang belum turun-turun juga sampai saat ini. Namun bagi saya, niat baik PKS mendukung saya seperti ini, sudah Alhamdulillah,” aku Chaidir. Namun kendati tidak mendapatkan kepastian dukungan dari PKS hingga pukul 00.00 WIB malam tadi, Chaidir tetap berharap kalau tidak bisa secara kepartaian maka dukungan secara pribadi juga diharapkan nantinya. “Kalau tidak bisa secara kepartaian ya, secara pribadi saya juga mengharapkan. Yang jelas saya berterima kasih atas niat awal mereka mendukung. Itu sudah Alhamdulillah,” ulang Chaidir.

Seperti diberitakan sebelumnya, di saat detik-detik terakhir pendaftaran calon gubernur di KPU Riau, PKS memutuskan sikap mendukung pasangan CS. Sekretaris DPW PKS Riau, Hermanto Iskandar Muda saat dikonfirmasi Riau Mandiri, Senin (30/6) membenarkan jika keputusan itu telah diambil oleh PKS setelah mencermati dan mengkaji berbagai kemungkinan atas dukungan itu. Pilihan jatuh ke pasangan CS karena berdasarkan fakta di lapangan dinilai lebih memiliki track record (rekam jejak) lebih baik, kredibilitas bagus dan tidak tersangkut pada kasus-kasus hukum. Keputusan ini ungkap Hermanto, juga sekaligus menepis berbagai anggapan yang sengaja dilontarkan pihak tertentu bahwa PKS menunda-nunda memberikan dukungan semata–mata karena masalah uang. “Masyarakat akan bisa menilai mana partai yang mendukung karena alasan uang dan yang memang karena pertimbangan untuk kepentingan masyarakat. Dan ini kita akan buktikan,” kata Hermanto.

Pihaknya menegaskan setiap Pilkada memang membutuhkan dana yang cukup tapi hal itu bukan satu-satunya syarat yang diminta PKS terhadap calon, tapi juga masalah citra dan sikap bersih dan peduli calon terhadap masyarakat. Terbukanya dukungan PKS ini mengemuka dalam deklarasi pasangan CS yang diselenggarakan di Jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru dengan menghadirkan partai pendukung PDIP, Partai Bulan bintang (PBB) dan Partai Nahdlatul Umah Indonesia (PNUI). Soal ketidakhadiran pimpinan dan kader partai dalam deklarasi CS tersebut, Hermanto mengatakan bukan menjadi persoalan dan sudah dikomunikasikan dengan pasangan CS. Soalnya PKS Riau masih menunggu turunnya surat keputusan dari DPP PKS yang kemungkinan baru akan keluar Selasa dan langsung diserahkan ke KPU Riau untuk menandatangani dukungan pencalonan.

Golkar
Di sisi lain Partai Golkar akan segera mengganti Chaidir dari kursinya di DPRD Riau. Korwil Partai Golkar untuk Riau dan Kepri, Firman Subagyo mengatakan DPP Golkar segera mengambil langkah tegas terhadap Chaidir karena telah memilih sikap berseberangan dengan maju menjadi calon gubernur dari partai lain selain Golkar di Pilgubri. Kemungkinan besar dalam waktu tak lama lagi DPP akan mengeluarkan surat persetujuan pergantian antarwaktu (PAW) tersebut. “Surat pengunduran diri sudah kita terima dan akan segera kita proses,” kata Firman kepada wartawan selepas menghadiri deklarasi pasangan Rusli Zainal- Mambang Mit di Bandar Serai Purna MTQ Pekanbaru, Selasa (1/7).

Firman mengatakan alasan adanya tindakan ini karena secara internal partai telah ada ketentuan yang menyebutkan, setiap kader Golkar yang memilih maju dengan partai lain harus mengundurkan diri dari jabatan struktural dan fungsional. Sanksi tersebut juga akan dikenakan kepada kader lainnya yang membelot mendukung pasangan calon lain, karena kata Firman dalam deklarasi tersebut, keputusan DPP menetapkan RZ-MM harus diamankan. Namun berdasarkan juklak dari Golkar, kader yang maju dengan partai lain hanya dicopot dari jabatan struktural dan organisasinya yaitu keberadaanya jabatan di legislatif dan kepengurusan partai. Tetap menjadi anggota partai tersebut.

Senior Partai Golkar Riau, Badrun A Saleh di kesempatan terpisah sebelumnya agak meragukan ketegasan DPP itu. Salah satu bukti terjadi di Medan terhadap Ketua DPRD Sumut yang ikut maju di partai lain, tapi tetap menjabat Ketua DPRD dan memimpin pelantikan Gubernur terpilih. Selain itu kerugian yang besar bagi Golkar ungkap mantan birokrat ini jika Golkar “tega” membuang kader seniornya dari partai tersebut dan hal itu perlu menjadi pertimbangan oleh partai. Selain itu ketentuan tidak mengatur mundur jadi ketua dewan dan hanya non aktif saja.

Sementara Chaidir sendiri jauh-jauh telah menyatakan siap menerima semua konsekwensi logis dari sikapnya itu dan bersedia mengundurkan diri dari jabatan ketua dewan dan kepengurusan partai. Dari informasi diperoleh Riau Mandiri, DPD PG Riau sendiri melalui fraksi di dewan telah menyiapkan dua nama pengganti Chaidir yaitu Ruspan Aman dan Yuherman Yusuf. Sesuai dengan ketentuan Golkar masih akan menguasai ketua dewan karena sebagai partai memiliki kursi 16, terbanyak dari partai lainnya. Dua nama ini nantinya akan disampaikan dalam paripurna dan dipilih oleh seluruh anggota. (yon)


eXTReMe Tracker