DPRD Desak RAL Dievaluasi Total

PEKANBARU-Meskipun sudah ada kesepakatan damai antara Direktur Utama (Dirut) PT Riau Airlines (RAL) Heru Nurhayadi dengan para pilot yang mengancam melakukan mogok terbang, kalangan DPRD Riau menganggap masalah ini cukup serius. Masalah ini harus mendapatkan evaluasi total dari Pemerintah Provinsi Riau karena menyangkut keberadaan BUMD. Apalagi kasus-kasus yang melibatkan pimpinan perusahaan penerbangan ini bukan kali pertama terjadi sehingga dikhawatirkan bakal menjadi preseden buruk dan bisa terulang kembali.Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Komisi C DPRD Riau Ir. Yulios dan anggota Komisi B DPRD Riau, Nurdin, SE, Akt, Rabu (9/7), menyikapi adanya persoalan baru di tubuh BUMD itu yang terancam lumpuh total akibat rencana aksi mogok terbang pilot. Yulios dan Nurdin menyatakan sangat menyayangkan adanya kejadian itu karena akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan publik terhadap BUMD yang mulai mengalami kemajuan. Apalagi jika ancaman mogok terbang itu benar-benar dilakukan maka akan menjatuhkan nama baik BUMD Riau itu, bukan hanya di kalangan masyarakat Riau juga bagi kalangan pemodal dari daerah lain.

Menurut Nurdin, langkah yang perlu dilakukan Pemprov Riau dengan me-review kembali keberadaan direktur PT RAL tersebut. Sebab dari masalah yang timbul dengan pilot pesawat selain merasa dilecehkan juga akibat peningkatan jam terbang yang dinilai tidak sesuai dengan kesanggupan para pilot tersebut. Hal ini sangat membahayakan keselamatan penerbangan dan terkesan adanya usaha kejar terget tanpa memperhatikan keselamatan dan kelayakan armada.

“Pemprov Riau, terutama kalangan komisaris harusnya mengevaluasi total kembali keberadaan direktur dan jajaran PT RAL ini karena dikhawatirkan ini hanya bagian dari masalah yang bakal bisa muncul lagi dari kepemimpinan yang tak sehat,” kata Nurdin. Sebelumnya, ungkap Nurdin, juga terjadi kasus pencopotan manajer keuangan PT RAL yang berujung pada masalah. Terlebih adanya informasi pelibatan paranormal dalam urusan penerbangan dan rekrutmen, penempatan karyawan yang cukup meresahkan.

Sementara itu Yulios mengatakan peran pilot dalam penerbangan itu sangat vital dan sebagai pimpinan BUMD harusnya mampu melakukan komunikasi yang baik kepada jajarannya. Kejadian itu bukanlah prestasi yang positif bagi PT RAL karena keberadaan BUMD juga tergantung pada pembangunan imej yang positif. Bagaimana mungkin masyarakat akan lebih menyukai penerbangan daerah jika manajemen dan kepemimpinannya tak beres dan selalu berkonflik.

Yulios menilai wajar jika kemudian ada tuntutan mundur dari karyawan terhadap Heru sebagai bentuk kekecewaan kepemimpinannya. Tapi selagi masalah ini bisa diselesaikan dengan internal, diminta kepada PT RAL menyelesaikannya dan komitmen tak ada lagi masalah di kemudian hari. Pihaknya juga setuju adanya evaluasi menyeluruh terhadap penerbangan daerah ini.

Berdamai
Perseteruan antara 31 pilot RAL yang tergabung dalam Forum Komunikasi Penerbang (FKP) RAL dengan Dirut RAL Heru Nurhayadi dan manajemen RAL berakhir sudah. Heru Hurhayadi akhirnya mengakui kesalahannya dan minta maaf serta mengakomodir aspirasi pilot RAL. Pengacara PT RAL Kapitra Ampera yang memediasi perdamaian antara pilot dan Dirut RAL mengungkapkan, setelah sempat berdialog cukup lama, kedua belah pihak akhirnya sepakat berdamai dan tidak memperuncing masalah. Dialog antara para pilot dan Dirut RAL yang berlangsung, Selasa (7/7) malam akhirnya menyepakati sejumlah kesepakatan.

“Tadi malam kedua belah pihak sudah berdialog cukup lama, dan hasilnya kedua belah pihak sepakat berdamai,” kata Kapitra Ampera kepada wartawan di ruang pertemuan Hotel Aryaduta, Rabu (9/7). Hadir dalam jumpa pers kemarin, Dirut RAL Heru Nurhayadi serta manajemen RAL, Ketua FKP RAL Capt Rendra Darmakusuma serta para pilot RAL.

Dalam keterangannya, Heru Nurhayadi mengakui kesalahannya yang sudah melecehkan para pilot, dan meminta maaf kepada para pilot RAL. Selain itu, Dirut RAL juga menyepakati bahwa jumlah landing tetap seperti biasa, yakni enam kali, sesuai dengan aspirasi para pilot. Dengan demikian, keinginan Dirut RAL menambah jumlah landing sebanyak 8 kali dalam sehari batal direalisasikan.

Pada kesempatan itu juga, kedua belah pihak, yakni para pilot dan Dirut RAL diberi kesempatan untuk menyampaikan keterangan yang intinya membenarkan pernyataan pengacara RAL, bahwa perseteruan antar kedua belah pihak sudah mendingin. Dengan itu juga, rencana aksi mogok yang disampaikan para pilot RAL batal dilakukan, setelah adanya perdamaian antara kedua belah pihak tersebut. Sebelum jumpah pers, para pilot terlebih dahulu menemui Wakil Gubernur Riau Wan Abubakar, guna memberikan keterangan terkait perseteruan antara pilot dengan Dirut RAL. (yon,ara)

Incoming search terms:

  • jumlah BUMD di Provinsi Riau
This entry was posted in Riau Raya. Bookmark the permalink.

Comments are closed.