Kajati Riau Meninggal Dunia

PEKANBARU-Kepala Kejaksaan Tingi (Kajati) Riau HM Djaenuddin Nare, SH (56), Senin (11/8) malam, sekitar pukul 23.05 WIB, meninggal dunia di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, karena serangan jantung. Pagi ini, jenazah almarhum akan dibawa ke Jakarta, untuk diserahkan kepada pihak keluarga. Menurut rencana, jenazah Djaenuddin akan dikebumikan di Jakarta. Kepergian Djaenuddin, yang sudah setahun bertugas di Riau ini, sangat mengejutkan, karena sebelum meninggal, pria ini masih sempat bercanda saat menghadiri diskusi publik Senin malam di Hotel Pangeran, Pekanbaru. “Kita sangat berduka. Kita kehilangan salah seorang putera terbaik bangsa,” kata Gubernur Riau Wan Abu Bakar, saat melayat almarhum di rumah duka di Jalan Gajah Mada Nomor 10 Pekanbaru, Selasa malam.Menurut Wan, pada detik-detik akhir hidupnya, almarhum terlihat ceria. Almarhum sempat didaulat bernyanyi saat menghadiri acara Panwaslu Riau di Hotel Pangeran, Senin (11/8) malam. Ketika itu Djaenuddin menyanyikan lagu favoritnya yang berjudul “Sai Anju Ma Au” , sebuah lagu populer dari tanah Batak yang artinya maafkanlah aku. Ketika itu almarhum juga tampak ceria. Bahkan almarhum juga sempat mengajaknya untuk bernyanyi bersama, namun Wan menolaknya. Sebelumnya, almarhum sempat pamit keluar sebentar ruangan. “Saya dengar, katanya mau merokok sebentar,” ujarnya.

Wan merasa kaget saat almarhum kembali duduk di sampingnya. Begitu duduk, tiba-tiba saja almarhum langsung tersungkur dan kepalanya membentur meja yang ada di hadapannya. Melihat kejadian yang begitu tiba-tiba, almarhum langsung dilarikan ke RS Awal Bross untuk mendapatkan perawatan. “Setelah kejadian itu, saya tidak tahu pasti. Belakangan saya mendapat informasi dari dr Marwan bahwa almarhum telah dipanggil Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Menurut Wan, ia memang sempat mendengar informasi dari istri almarhum, bahwa Djaenuddin Nare pernah mengidap penyakit darah tinggi. Namun selama ini, orang mungkin tidak mengetahuinya karena selama hidupnya, Djaenudin Nare memang jarang sekali menyinggung-nyinggung penyakit yang pernah diidapnya itu.

Wan Abubakar menilai sosok Djaenudin Nare sebagai orang yang memiliki kepribadian menarik. Selama bertugas, almarhum juga sering berkomunikasi dengannya. Selain itu, Wan melihat Djaenuddin Nare sebagai sosok yang ceria. Hal itu diketahuinya setelah beberapa kali melakukan kunjungan kerja bersama. Termasuk saat Wan bersama Djaenuddin Nare mengunjungi areal peternakan PT Riau Agro Mandiri (RAM) di Muara Fajar Rumbai, Minggu (10/8). “Ketika itu almarhum terlihat sangat ceria dan gembira. Dalam kesannya, ia mengaku kagum dengan apa yang telah dilakukan H Basrizal Koto selaku pemilik. Almarhum juga mengaku bercita-cita hendak melakukan hal serupa di kampung halamannya,” tambahnya.

Sebelum meninggal dunia, Senin malam itu, Wan Abu Bakar dan Djaenuddin, sempat bertukar pikiran mengenai berbagai masalah hukum di Riau. “Saya benar-benar sangat berduka cita. Semoga seluruh keluarga yang ditinggalkan tabah,” tambah Gubernur. Hal yang sama juga disampaikan tokoh masyarakat Riau Chaidir. “Saya sangat terkejut ketika diberitahu Pak Djaenuddin meninggal dunia. Dia penegak hukum yang sangat tegas, tapi sangat ramah secara pribadi. Dia teman yang sangat menyenangkan, meski kalau sudah bicara hukum sangat keras dan tak ada kompromi,” kata kandidat Gubernur Riau ini.

Menurut Chaidir, Djaenuddin, datang ke Riau jelas membawa misi khusus, atau mendapat tugas berat dari atasannya untuk menertibkan kasus-kasus hukum yang dihadapi kejaksaan di daerah ini. Buktinya, dia tak mau kompromi untuk mengganti kepala-kepala kejaksaan negeri di Riau, yang tak pernah memproses kasus-kasus korupsi. “Kajari yang tak pernah mengungkap kasus korupsi di wilayah kerjanya langsung diganti,” ujarnya.

Juga Kaget
Tokoh masyarakat Riau lainnya, H Basrizal Koto (Basko), juga mengaku sangat terkejut saat diberi tahu Djaenuddin telah berpulang menghadap Allah SWT. “Minggu (10/8) kemarin, saya ketemu dengan almarhum di pesta perkawinan anak Wan Syamsir Yus. Saya katakan kepadanya, Pak Djaeinuddin kok rapi sekali. Lalu dia menyalami saya dan mencium pipi saya berulang-ulang,” ucap Basko mengenang.

Basko juga membenarkan, bahwa Minggu siang almarhum dan Gubernur Riau Wan Abu Bakar berkunjung ke peternakan PT RAM miliknya, di Muara Fajar. “Dia salaman sama saya sepuluh kali lebih. Waktu itu saya yang mengundang dia makan siang di peternakan. Dia bilang habis main golf dia langsung datang dan memang pengin makan siang bareng saya dan Pak Gubernur. Waktu itu wajahnya cerah sekali dan tak berhenti tertawa karena senang melihat sapi dan anaknya yang gemuk-gemuk,” tutur Basko.

Sementara Asintel Kejati Riau Ilman A Rahman mengaku, selama bertugas di Kejati Riau, almarhum juga tak pernah mengeluh tentang penyakit yang diidapnya. Namun almarhum memang dikenal sebagai perokok, selain profil yang kebapakan. Oleh karena itu, kejadian yang begitu tiba-tiba tersebut sangat membuat ia dan rekan yang lain di Kejati merasa terkejut dan kehilangan.

Pindah ke Kampung
Kepergian Djaenuddin kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, tidak hanya mengejutkan warga Riau, tapi juga kerabatnya di Sulawesi selatan. Kepala Kejaksaan Tinggi Sulselbar, Hamzah Tadja, mengaku terkejut dengan kepergian Zainuddin. “Kami benar-benar kehilangan,” kata Hamzah yang akan dipromosikan menjadi Inspektur Kejaksaan Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI.

Padahal almarhum, menurut Tadja, akan segera pindah menjadi Kajati di Sulselbar. Surat Keputusan (SK)-nya sudah keluar. Hanya tinggal menunggu waktu untuk pelantikan. “Dia bilang senang kembali atau pindah tugas ke kampung halaman. Ternyata, kini dia benar-benar pulang kampung dengan kenangan-kenangan bagi kami teman-temannya,” kata Tadja.

Bagi masyarakat Riau, kehadiran Zainuddin memang membawa angin segar dalam penegakan hukum, khususnya dalam menangani kasus-kasus korupsi. Dia juga rajin berkeliling daerah di Riau menemui aparat kejaksaan di wilayah kerjanya. Hampir semua kabupaten/kota di Riau didatangi almarhum dan dia minta agar aparat kejaksaan benar-benar menegakkan hukum. “Tegakkanlah hukum secara profesional dan proporsional dengan memperhatikan rasa keadilan masyarakat. Dan, saya juga meminta seluruh lapisan masyarakat membantu dan bahu-membahu bersama pihak kejaksaan dalam menegakkan hukum di daerah ini,” katanya saat berkunjung ke Kabupaten Bengkalis.

Ditegaskannya, dalam penegakan hukum, kejaksaan tidak boleh melakukan pelanggaran hukum. Hukum tidak akan dapat ditegakkan apabila dalam upaya penegakan itu terjadi pelanggaran hukum. Karena penegakan hukum yang dilakukan secara konsisten dalam rangka menjamin kepastian hukum serta keadilan sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan saat ini, termasuk pembangunan ekonomi.

Saat berkunjung ke Kota Dumai, almarhum dengan tegas mengatakan, dengan tidak adanya jaminan keamanan dan kepastian hukum, maka investor tidak akan berani berinvestasi di Kota Dumai. Sedangkan bagi kalangan investor yang sudah terlanjur masuk akan berusaha mencari alternatif daerah lain yang dinilai lebih aman untuk berinvestasi. “Bila hal ini terjadi, yang dirugikan adalah masyarakat. Sebab dengan larinya investor, masyarakat akan kehilangan lapangan pekerjaan yang berdampak terhadap hilangnya kesempatan hidup yang layak,” ujarnya saat itu.(hdk,sis,bin,sri)

This entry was posted in Headline. Bookmark the permalink.