Greenpeace Desak Menteri ESDM Ambil Langkah Tegas
Krisis Energi
JAKARTA - Lembaga internasional Greenpeace mendesak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, untuk segera mengambil tindakan tegas guna mengatasi krisis energi. Juga segera merealisasikan pernyataan Presiden RI tentang pentingnya target pemanfaatan energi terbarukan. “Yakni dengan mengeluarkan sebuah kebijakan nasional yang menawarkan insentif bagi investasi energi terbarukan serta memberlakukan program efisiensi energi,” ujar Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Sonki Prasetya, saat melakukan unjuk rasa di Departemen ESDM, di Jakarta, Kamis (21/8). Lebih dari empat puluh aktivis Greenpece yang mengenakan kostum yang melambangkan berbagai sumber energi terbarukan seperti tenaga angin, surya, dan panas bumi mendatangi departemen ESDM. Mereka juga membawa steker listrik raksasa dengan spanduk bertuliskan “Merdeka Dari Mati Lampu, Revolusi Energi Sekarang”. Para aktivis itu menyerukan Menteri agar segera memanfaatkan sumber energi terbarukan.
“Guna mencapai kedaulatan energi dan mengatasi permasalahan perubahan iklim, Indonesia harus mengembangkan alternatif sumber daya energi dengan emisi karbon yang rendah,” tandas Sony. Laporan greenpeace menunjukkan kurang lebih 60% kebutuhan listrik Indonesia dapat dipenuhi oleh sumber energi terbarukan pada tahun 2050. Hal ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia akan impor bahan bakar fosil, menyediakan listrik murah bagi masyarakat, dan mengatasi permasalahan krisis energi.
Laporan greenpeace yang bertajuk Revolusi Energi-Prospek Energi Berkelanjutan Indonesia, menawarkan perpaduan antara teknologi energi terbarukan serta efisiensi energi sebagai pilihan sumber energi yang bersih, murah, ramah lingkungan menuju kedaulatan energi. “Ini membuat Indonesia terbebas dari fluktuasi harga bahan bakar fosil, serta menghindari bahaya nuklir,” tandas Sony.
Greenpeace juga menilai, setiap tahun dana pengembangan energi terbarukan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Menurut mereka, itu menunjukkan adanya pengaruh kuat dari kekuatan-kekuatan yang berpihak pada sumber energi tidak ramah lingkungan dalam tubuh departemen ESDM. Reaksi pemerintah atas krisis energi yang terjadi, dengan memberlakukan pemadaman bergilir dianggap sama sekali bukan jalan keluar yang berkelanjutan. Sebab, Indonesia dapat lebih berkembang jika segera memanfaatkan sumber energi terbarukan dengan maksimal.
Karena itu, Greenpeace menyerukan Menteri ESDM untuk menerapkan target yang mengikat bagi pemanfaatan sumber daya energi terbarukan. Menetapkan kebijakan serta insentif fiskal untuk menarik investasi di bidang teknologi energi terbarukan yang menguntungkan dan memungkinkan diterapkan. (mio,ivi)