Longsor Ancam Jalur Riau-Sumbar



Pengendara Diminta Waspada

PEKANBARU-Enam titik rawan longsor masih mengancam jalur mudik di ruas Riau-Sumatera Barat (Sumbar), terutama melalui Bangkinang, Kabupaten Kampar. Aparat kepolisian meminta para pengendara tetap waspada agar terhindar dari bencana longsor di lintasan tersebut. Kepala Kepolisian Resor (Polres) Kampar AKBP MZ Muttaqien, Minggu (7/9), mengatakan enam titik rawan longsor tersebut tersebar mulai dari Km 102 hingga Km 110 Kelok Indah, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar.

“Para pengendara tetap harus hati-hati saat melewati jalur Riau-Sumbar via Bangkinang. Apalagi saat ini Riau sudah memasuki musim penghujan yang membuat ancaman longsor semakin tinggi,” katanya. Menurutnya, terdapat sejumlah indikator, yang membuat enam titik di jalur tersebut rawan longsor. Pertama, di bawah badan jalan tersebut terdapat mata air. Kondisi ini membuat kontur tanah labil. “Kontur tanah yang labil ini tidak mampu menahan beban kendaraan yang melintas. Belum lagi penambangan galian C di sepanjang jalur rawan tersebut. Semua kondisi ini dapat membuat badan jalan ambrol ke jurang. Ataupun badan jalan tertimbun longsor dari tebing yang runtuh akibat digali oleh masyarakat,” kata Muttaqien. Ia mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) setempat untuk menangani badan yang longsor ini.

Bahkan, Dinas Kimpraswil sudah mendirikan posko siaga losngor di Desa Rantau Berangin, Kecamatan XIII Koto Kampar, atau tidak jauh dari lokasi rawan longsor itu. Posko ini dilengkapi peralatan berat untuk penanggualangan bencana. Terakhir kali, peristiwa longsor yang menutupi badan jalan lintas Riau-Sumbar terjadi pada akhir Maret lalu. Titik longsor pada waktu itu tepatnya berada di Km 17 Desa Lubuk Jantan, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumbar. Badan jalan sepanjang 90 meter tertimbun tanah setinggi 4 hingga 5 meter.

Diminta Waspada
Sementara itu dari Sumbar dilaporkan, bencana banjir dan longsor juga mengancam provinsi tetangga Riau tersebut menyusul semakin tingginya curah hujan sejak sepekan terakhir. Badan Meterologi dan Geofisika (BMG) Padang mengingatkan warga untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya banjir maupun longsor. Nelayan juga diimbau untuk sementara waktu tidak melaut karena tingginya gelombang. Menurut Kepala Seksi (Kasi) Obserbvasi dan Informasi BMG Tabing Padang Amarizal, Sabtu (6/9), intensitas hujan selama sepekan ke depan di Sumbar masih banyak. “Sekitar 40 sampai 50 milimeter per hari,” katanya. Seminggu terakhir, menurut dia, curah hujan di Sumbar sudah mencapai sekitar 100 milimeter. “Normalnya, dalam satu bulan sekitar 420 milimeter. Bila lebih dari jumlah tersebut berarti di atas normal,” jelasnya. Amarizal mengingatkan, kendati curah hujan belum melewati batas normal, warga tetap harus waspada dengan bencana banjir dan longsor. “Hal ini karena wilayah Sumbar berada di perbukitan dan rawan dengan bencana itu,” katanya.

Menurutnya, curah hujan di Sumbar yang dilalui garis khatulistiwa memang selalu tinggi setiap Maret dan September. “Hal ini karena tiap tanggal 21 Maret dan 20 September matahari berada pada posisi yang dekat dengan khatulistiwa. Hal ini membuat tekanan udara di wilayah tersebut menjadi rendah, sehingga angin bertiup ke kawasan tersebut,” jelasnya. Angin yang membawa uap air, ulas Amarizal, yang menimbulkan tingginya intensitas hujan. “Ditambah lagi tekstur Sumbar yang berbukit-bukit, menghambat jalannya angin sehingga akhirnya turun hujan,” katanya.

Siagakan Alat Berat
Berkaitan dengan perubahan iklim dan cuaca tersebut, Pemprov Sumbar juga sudah mulai menyiagakan peralatan berat di beberapa lokasi rawan longsor. Menurut Kepala Dinas Prasarana Jalan Pemprov Sumbar Dody Ruswandi, kesiagaan yang dilakukan aparatnya merupakan persiapan normal dan rutin yang dilakukan setiap hari. “Peralatan kita memang sudah tersebar di berbagai daerah yang dekat titik rawan longsor,” katanya.

Peralatan berat tersebut antara lain tersebar di Painan (Kabupaten Pesisir Selatan), Lubuk Selasih (Kabupaten Solok), Muara Takung (Kabupaten Dharmasraya), Palupuh (Kabupaten Agam), Lembah Anai (Kabupaten Padang Pariaman), Silungkang (Kota Sawahlunto), Pangkalan (Kabupaten Limapuluh Kota), Kumpulan (Pasaman), Padang Panjang, Bukittinggi dan Padang. (mio,ant,ral)


eXTReMe Tracker