Harga Anjlok, Petani Terpuruk
PASIR PANGARAYAN-Krisis ekonomi global yang melanda dunia saat ini telah berimbas langsung kepada komoditi ekspor Riau seperti kelapa sawit dan karet. Harga jual yang anjlok tajam mengakibatkan puluhan ribu hektar sawit di Kabupaten Rokan Hulu tidak dipanen para petani. Selain tak sepadan dengan biaya yang harus dikeluarkan, mereka khawatir kondisi ini akibat permainan para spekulan. Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Rohul H Ardiman Daulay kepada Riau Mandiri, Sabtu (11/10), mengungkapkan, jumlah kebun sawit yang tak dipanen para petani sejak dua pekan terakhir ini diperkirakan mencapai 40 ribu hektar dari 118 ribu hektar Tandan Buah Segar (TBS) di kebun sawit milik petani sawit yang tersebar di daerah eks transmigrasi Kabupaten Rohul.
Menurut Ardiman, harga TBS mulai Jumat (10/10) silam cuma dihargai Rp350 sampai Rp400 per kg. Bahkan menurutnya, sejak tanggal 17 Agustus 2008 lalu harga TBS petani yang dibeli para toke dan cukong terus anjlok mulai Rp100 sampai Rp50 per kgnya setiap harinya. “Kalaupun ada petani yang memanennya, hasil penjualan TBS tersebut terpaksa dibagi tiga yakni untuk upah dodos, upah langsir dan sisanya untuk pemilik kebun,” kata Ardiman menjelaskan situasi di kebun-kebun sawit Rohul. Diterangkan Ardiman, harga jual TBS para petani di kawasan ekstransmigrasi ke toke dan cukong sampai ke jalan poros atau di tempat penampungan jual TBS cuma Rp350 hingga Rp400 per kg. Itupun para petani harus mengeluarkan upah langsir Rp100 hingga Rp200 per kg ditambah lagi ongkos panen Rp100 per kgnya, sehingga hasil penjualan TBS yang diterima petani tidak lagi memadai.
“Bayangkan saja bila seperti di daerah yang jauh dari jalan poros, maka petani akan mengeluarkan biaya tambahan 300 per kgnya. Sehingga kalau harga TBS bila hanya Rp350 per kg maka mereka hanya menerima tinggal Rp50 per kgnya. Kondisi ini cukup memprihatinkan, ditambah lagi dampak krisis keuangan di Amerika Serikat juga terjadi dampak terhadap nilai jual TBS petani,” ungkap Ardiman. Sekitar tanggal 5 Oktober 2008 lalu, harga TBS masih sempat Rp600 per kg namun kemudian dalam hitungan sehari turun kembali menjadi Rp500 per kg, hingga sampai kini menjadi Rp350 per kg. “Dampak anjloknya TBS petani, saat ini banyak petani yang melakukan pinjaman modal untuk biaya perawatan kebun ke bank. Malahan imbas itu juga terjadi tunggakan pembayaran kredit Usaha Ekonomi Desa-Sektor Pertanian (UED-SP) dana pinjaman kredit dari Provinsi Riau yang dikucurkan melalui desa seperti di Kecamatan Bangun Purba,” tutur Ardiman. Kemudian petani yang paling cukup merasakan dampak anjloknya harga sawit yakni di daerah transmigrasi di 3 Kecamatan yakni, Kecamatan Rambah Hilir, Rambah Samo dan Bangun Purba. Malahan seperti di Desa Rambah Jaya dan Pasir Intan Kecamatan Bangun Purba, dari 2500 hektar kebun sawit masyarakat sebanyak 1500 hektar kebun masyarakat atau mencapai 60 persen tidak dipanen lagi.
Panggil Pemilik PKS
Selaku Ketua DPD APKASINDO Rohul, H Ardiman Daulay mengharapkan Pemkab Rohul dan instansi terkait lainnya untuk mengambil kebijakan mengatasi masalah anjloknya harga TBS petani Rohul. Apalagi dalam hal ini sudah seharusnya anggota DPRD Rohul harus segera memanggil seluruh pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Rohul dan mempertanyakan mengenai anjloknya harga TBS. “Untuk menekan agar para petani tidak merasa terjepit dan terpuruk lagi, Pemkab Rohul dan instansi terkait lainnya untuk mengadakan Saprodi. Ini akan membantu sekali bagi petani kelapa sawit, jangan sampai nantinya banyak petani yang beralih profesi, selain itu juga akan menyebabkan pula meningkatnya angka pengangguran dan kriminalitas ini harus segera disikapi Pemkab Rohul,” kata Ardiman.
Sejauh ini Arman tidak tahu pasti penyebab terus turunnya harga sawit. “Memang saat ini krisis moneter sedang melanda dunia seperti diberitakan di media massa. Tapi sepertinya bukan itu penyebabnya. Karena pada krisis moneter 1998 harga sawit malah bagus,” ujarnya. Ia juga tidak tahu pasti apakah permainan spekulan pabrik kelapa sawit (PKS) yang membuat harga sawit ini terus turun. Tapi yang pasti, lanjut Arman, pihaknya meminta pemerintah kabupaten dan provinsi mencarikan solusi masalah harga ini. “Kami minta pemerintah memanggil para pemilik PKS. Tanyai mereka kenapa harga sawit ini terus turun. Dan mendesak mereka agar mau menaikkan harga ini kembali,” harapnya.
Selain TBS yang anjlok, harga komiditi karet petani yang dibeli para toke juga mengalami hal yang sama. Malahan dari harga jual karet petani pada 1 pekan lalu masih bertahan pada Rp500 per kg, kini sudah anjlok menjadi Rp4.000 per kg atau turun Rp1000 per kgnya dalam 1 pekan ini.
Seperti sejumlah petani karet di Kecamatan Bangun Purba, memprediksi harga karet yang akan dijual akan anjlok kembali. Hal itu dilihat dari harga jual karet ke toke setiap pekannya yang terus turun. “Padahal harga Karet sempat berada di level Rp9500 per kg sekitar 1 bulan lalu, namun secara berangsur-angsur turun hingga menjadi Rp4000 per kgnya. Ini semakin membuat kami petani terjepit ekonominya,”cetus Endri salah seorang penyadap karet di kawasan Bangun Purba.(fer)
Incoming search terms:
- jual sawit ribuan hektar
- upah dodos sawit