‘Swing Voter’ Partai Besar Melorot

LSI: Demokrat Melonjak

JAKARTA—Para pemilih nonpartisan (swing voter) diperkirakan bakal menjauh dari sejumlah partai politik besar atau partai papan atas pada Pemilu 2009 mendatang. Selain karena mayoritas masyarakat masih menganggap partai identik dengan korupsi, citra negatif sejumlah partai besar juga ikut menurunkan popularitas mereka di tengah-tengah swing voter.

Kenyataan itu terungkap dari hasil survei terbaru yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis Minggu (16/11) kemarin di Jakarta. Survei ini dilakukan LSI dengan jumlah sampel 2.197 responden dari populasi WNI di seluruh Indonesia yang memiliki hak pilih. Metode survei dilakukan dengan wawancara tatap muka pada 26 Oktober-5 November 2008. Direktur Eksekutif LSI Saiful Mujani mengatakan, swing voter negatif dengan kecenderungan ditinggalkan pemilihnya terjadi pada PDI-P dan Golkar, yakni masing-masing 14 persen dan 16 persen.

“Kalau dibandingkan dengan hasil survei lima bulan lalu, yakni Juni 2008, PDI-P dan Golkar mengalami penurunan dukungan sebesar masing-masing 10 persen dan 4 persen. Hasil survei ini dibandingkan dengan perolehan suara 2004, penurunan dukungan keduanya mencapai PDI-P turun hingga 4,5 persen dan Golkar sebesar 6 persen,” kata Saiful.

Sebelumnya, pada pemilu 1999-2004 swing voter mencapai 37 persen pada tujuh partai besar, tetapi swing voter PDI-P merosot dari 34 persen menjadi 18,5 persen dengan kecenderungan pemilih meninggalkannya. “Swing voter negatif besar dengan kecenderungan pemilih beralih ke partai lain, yakni PKB dan PPP sekitar 3 persen, sedangkan Golkar dan PAN jumlah swing voter negatif relatif lebih kecil, sekitar 1 persen,” ujar Saiful dalam pertemuan yang juga dihadiri pengamat komunikasi politik dari UI, Effendi Ghazali, dan Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan.

Demokrat Melonjak
Yang menarik, menurut Saiful, dalam survei November 2008, hanya partai Demokrat yang mengalami kenaikan swing voter positif sebesar 8 persen. “Demokrat mengalami kenaikan sebesar 10 persen, itu berdasarkan hasil survei bulan ini dibandingkan dengan Pemilu 2004,” kata Saiful. Melonjaknya swing voter Demokrat itu menurut Saiful, salah satu sebabnya karena PD dinilai relatif lebih bersih dari parpol lainnya. “Sebagian besar partai mengalami defisit pemilih akibat ditinggal swing voter. Namun yang dialami PD yang datang ke partai itu lebih banyak dari yang pergi,” kata Saiful.

Menurut Saiful, hal ini disebabkan berbagai hal. Salah satunya adalah citra PD yang dinilai bersih dari korupsi dibandingkan partai lainnya. “Citra ini (bersih korupsi) sebelumnya dipegang oleh PKS,” ujar Saiful. Saiful mengatakan, dalam tiga tahun terakhir terjadi perubahan sentimen politik pemilih pada partai politik di papan atas akibat kecenderungan swing voter. “Hal seperti ini telah terjadi empat kali dan Golkar tak lagi memimpin. Fluktuasi dukungan ini menunjukkan swing voter sangat besar menjelang Pemilu 2009 dan partai papan atas mendapat tantangan paling keras,” ujarnya.

Lebih jauh Mujani menjelaskan, dari hasil survei yang dilakukan LSI juga terungkap, mayoritas masyarakat masih menganggap partai identik dengan korupsi. “Sekitar 58 persen pemilih tak bisa menunjukkan partai mana yang paling bersih dari korupsi,” ucap Mujani.

Selain dinilai tak bersih dari korupsi, mayoritas pemilih juga menilai partai-partai politik tak memiliki pemimpin yang bagus, tak memiliki program kerja yang jelas, dan tak memiliki perhatian pada masyarakat. Akibatnya, kata Mujani, hanya sedikit pemilih yang mengidentikkan dirinya dengan partai tertentu. “Hanya 15 persen pemilih yang merasa dirinya orang partai tertentu,” tutur Mujani.

BOS dan BLT
Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali seusai jumpa pers rilis LSI itu mengatakan, meningkatnya kepercayan terhadap Partai Demokrat karena swing voter tersebut adalah penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah. “Memang Demokrat banyak diuntungkan karena sebagian besar dari swing voter adalah penerima BOS dan BLT dan juga masalah incumbency,” ujar Effendi Gazali.

Selain itu, lanjut Effendi, keunggulan Demokrat terkait swing voter dibanding partai lain juga disebabkan iklan-iklan pemerintah. Menurutnya, iklan pemerintah seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) mandiri juga turut memberi kontribusi ketertarikan swing voter kepada partai SBY itu.

“Kita juga harus melihat ada iklan Demokrat untuk Demokrat, dengan iklan pemerintah yang mempunyai tendensi untuk Demokrat. Saya melihat bahwa kenaikan angka (swing voter) Demokrat dari hal tersebut,” ujar dosen pascasarjana UI ini.

Lebih lanjut Effendi menjelaskan, publikasi hasil survei LSI ini akan mempunyai implikasi politik yang tinggi. “Jika ini nanti temen-teman beritakan, ada peluang bagi masyarakat untuk memikirkan partai Demokrat ketimbang (partai) yang lain,” ungkapnya. Effendi meyakini, hasil survei yang menguntungkan Demokrat ini juga akan berubah jika PDIP sebagai oposisi merilis iklan-iklan yang mengkritisi program pemerintah.

“Namun hasil ini pasti akan sangat berubah karena belum ada intervensi dari PDIP. Kita sedang menunggu iklan PDIP yang saya bayangkan attacking-nya akan berpengaruh pada hasil survei ini,” tandas Gazali. (kcm,dtc,ozc,tun)

This entry was posted in Polkam. Bookmark the permalink.

Comments are closed.