Soal Nomor Urut
PEKANBARU-Menempati nomor urut satu bukanlah jaminan bagi caleg untuk DPRD Riau merasa nyaman melenggang duduk sebagai wakil rakyat. Selain harus bertarung dengan sesama caleg di internal partai, caleg juga bersaing dengan caleg dari partai lain serta adanya ketentuan suara terbanyak partai. Sekretaris DPW PPP Riau, H Syarif Hidayat yang juga caleg nomor urut satu DPRD Riau dapil Inhu-Kuansing mengatakan, meski berada di nomor puncak, belum membuat dirinya di posisi aman. Sebab, setiap calon sekarang punya peluang dan kesempatan sama untuk mendapatkan dukungan. Apalagi ada ketentuan 30 persen mendapatkan dukungan suara otomatis mengantongi kursi dewan.
Dengan demikian, ungkapnya, meski menempati urutan pertama, calon harus tetap turun ke masyarakat, karena yang dipilih masyarakat adalah calon yang telah berbuat bagi masyarakat, bukan karena nomor urutnya. “Nomor urut satu belum jaminan untuk duduk. Harus tetap turun ke masyarakat karena masyarakat hanya akan melihat siapa yang telah berbuat untuk mereka, bukan karena partai dan nomor urutnya,” kata Syarif, Senin (15/12). Anggapan tak menjaminnya nomor urut itu turut dibenarkan caleg DPRD Riau nomor urut satu PPP lainnya, Azwir Alimuddin yang mengaku turut intensif turun ke masyarakat. Dengan demikian maka figurnya lebih familiar di masyarakat. Caleg DPRD Riau nomor urut satu dari Partai Amanat Nasional (PAN) Riau, H Ramli Sanur mengatakan, dirinya punya trik tersendiri untuk meraih simpati masyarakat. Selain didukung atribut, mengintensifkan pendekatan pada simpul-simpul masyarakat. Sebab kelompok masyarakat diyakini masih memiliki kekuatan komunal hingga perlu dirangkul. Bendahara DPW PAN Riau ini tak mau gegabah dengan nomor urut satunya, apalagi di PAN memberlakukan sistem suara terbanyak.
Lain bagi Ayat Cahyadi, caleg nomor urut 2 dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk DPRD Provinsi. Meskipun namanya sudah populer di kalangan masyarakat Pekanbaru karena pernah menjadi calon Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat tetap rutin turun ke masyarakat. “Ada atau tidak adanya Pemilu, di PKS sebagai kader harus tetap turun karena ada program masyarakat ditetapkan partai harus dijalankan,” kata Ayat.
Menariknya, sejumlah caleg DPRD Riau di nomor urutan bawah, ada yang merasa pesimis dengan peluang suara terbanyak dilakukan sejumlah partai. Bahkan ada yang menganggap keikutsertaan di Pemilu hanya coba-coba karena hanya ikut meramaikan saja.(yon)