PEKANBARU-Perekomian di Riau pada triwulan IV ini diperkirakan akan lebih terpuruk lagi dibanding triwulan III. Sejumlah komoditas ekspor Riau juga mengalami penurunan seperti mineral, pulp dan kertas meski batu bara masih betahan. Demikian diungkapkan Peneliti Ekonomi Senior BI Jakarta Wiwiek Sistowidayati dalam seminar Krisis Keuangan Global dan Implikasinya terhadap Perekonomian Indonesia di Kantor BI Pekanbaru Selasa (16/12). Dikatakannya, pada laporan triwulan III sudah terlihat penurunan harga-harga komoditas mulai menekan PDRB Riau tanpa migas 8,25 persen dan dengan migas 6,2 persen. “Hal ini jelas berpengaruh pada pendapatan petani. Akibatnya daya beli masayarakat Riau mengalami perlambatan. Dengan melambatnya semua sektor ini telah menyebabkan adanya PHK sebesar 13.000 orang di Riau dari berbagai industri dan jumlah ini bisa jadi akan meningkat,” jelas Wiwiek.Kondisi ini, menurutnya, masih akan berlanjut hingga triwulan IV karena proses recovery diperkirakan akan berlangsung satu tahun. Saat ini banyak kontrak kerja ekspor yang dibatalkan dan ini masih akan berlanjut hingga kondisi produksi kembali normal. Kebijakan Bank Indonesia yang telah menurunkan BI rate menjadi 9,25 % ternyata sangat lambat ditanggapi oleh dunia Perbankan untuk ikut menyesuaikan suku bunga kredit. “Kita lihat dunia Perbankan belakangan ini tidak mau cepat-cepat menyesuaikan kebijakan suku bunganya seiring dengan penurunan BI rate. Padahal jika BI rate naik mereka bisa dengan cepat menaikkan suku bunga,” ujarnya lagi.
Dia juga menggambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2009 di perkirakan akan lebih rendah dari tahun 2008 dimana berkisar 4,7-5,2 persen. Jika krisis global berlanjut, pertumbuhan ekonomi masih bisa tertekan menjadi 4-4,5 persen. “Namun ada hal yang membuat lega karena inflasi akan bisa ditekan pada kisaran 6,5-7,5 persen,” katanya. (hen)