SEMARANG-Sedikitnya seratus kiai Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan netralitas Nahdlatul Ulama dalam percaturan politik praktis. Penegasan tersebut merupakan salah satu hasil dari Silaturahmi Nasional Ulama Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (12/1). Para kiai sepakat untuk mengembalikan fungsi Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang berhidmat pada masalah umat sebagaimana keputusan Khittah Nahdlatul Ulama 1926. “Kembali ke khittah, berarti menegaskan kembali NU sebagai organisasi sosial yang lepas dari kepentingan politik praktis,” kata KH Musthofa Bisri (Gus Mus) yang memimpin jalannya acara silaturahmi.Para kiai juga mengimbau para politisi yang bersaing pada Pemilu 2009 untuk tidak memanfaatkan simbol Nahdlatul Ulama dalam kampanye. “Warga nahdliyyin bebas menentukan pilihan. Jangan menggunakan simbol NU untuk kepentingan kampanye,” kata Gus Mus. “Politisi yang hanya bermodal menjual NU, lebih baik jangan menjadi politisi,” lanjutnya. Silaturahmi ini dipimpin langsung oleh KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dari Rembang. Sejumlah kyai yang hadir di antaranya adalah KH Masruri Mughni (Brebes), KH Tsabit Jauhari (Jember), KH Abdul Muhaimin (Yogyakarta), KH Abdurrahman Khudlori (Magelang), KH Muhlas Dimyati (Cirebon), KH Dimyati Rois (Kendal), KH Dian Nafi’ (Solo), KH Muad Thohir (Pati), KH Abdul Aziz Mansur (Jombang), KH Miftahul Ahyar (Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur), KH An’im Mahrus (Kediri), KH Abdul Hayyi (Jakarta), serta kyai-kyai lainnya.
Pertemuan yang dihadiri kyai dari berbagai daerah ini menghasilkan lima butir rekomendasi yang mengacu pada netralitas Nahdlatul Ulama dalam politik praktis, serta mengimbau kepada warga nahdliyyin untuk kembali berpegang pada sembilan pedoman pokok politik Nahdlatul Ulama. n (tic,din)