Siapa yang tidak mengetahui kualitas Sekolah Menengah Umum Plus yang beralamat di Kubang Raya, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Sekolah yang bertaraf nasional dan pantas diperhitungkan di tingkat internasional.Jika dilihat setiap tahun paling sedikit merekrut 150 siswa berprestasi dari 300 siswa yang mendaftar. Selain merekrut siswa berprestasi juga menjadi sekolah terunggul dalam perebutan setiap perlombaan-perlombaan baik olimpiade atau semacamnya, tingkat lokal, nasional dan internasional.
Memang, pendidikan berkualitas tentu memerlukan dana besar. SMU Plus mendapat subsidi dana dari pemerintah provinsi di samping bantuan donatur tetap maupun tidak tetap setiap tahunnya. Maka sudah sepantasnya SMU Plus menjadi tempat siswa-siswa berkualitas baik segi kognitif, psikomotor, maupun afektif yang hendaknya terafiliasi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sehingga manfaatnya siswa-siswa yang tamat dari SMU Plus ini benar-benar berkualitas dan siap untuk disekolahkan ke perguruan tinggi favorit yang ada di Indonesia seperti UI, UGM, ITB maupun perguruan tinggi luar negeri. Sehingga berwujud sebagai generasi penerus pembangunan di Riau nantinya.
Semua harapan di atas akan terus terjaga, jika konsistensi dalam perencanaan selalu matang dan komitmen dalam menerapkan misi dan visi SMU Plus tersebut selalu ada. Karena ada sebuah kekhawatiran terjadinya diskriminasi dan dominasi yang seharusnya tidak terjadi pada siswa SMU Plus tersebut. Diskriminasi dalam belajar siswa seperti ada siswa yang sedang dan cerdas itu sebenarnya wajar dibuat oleh sekolah (ada kelas A = sedang dan B = cerdas). Tetapi yang menjadi persoalan adalah dalam pengikutan perlombaan dan kompetisi tertentu. Hal ini perlu dipertimbangkan oleh pihak sekolah SMU Plus atau pihak yang berwenang untuk tidak mengikutsertakan siswa yang sedang ikut kompetisi atau perlombaan. Karena menurut saya siswa yang sekolah di SMU Plus sudah unggul dan bagus dibanding dari siswa-siswa dari sekolah lain. Hal ini tentu berakibat tidak baik nantinya bagi siswa sedang tadi apakah dia stress, depresi, tertutupnya kebebasan berekspresi dan yang lebih diperparah adalah kegagalan dalam belajar nantinya.
Oleh karena itu saya mengharapkan SMU Plus harus pertimbangkan lagi keputusan yang merugikan ini, karena khawatir SMU Plus tidak ada peminatnya di masa mendatang. Semoga.
Dari: Zulfan Efendi, S.Pd. Jl. Ketapang No. 4 B Marpoyan, Pekanbaru.(abie)