Jihad Ilmu Harus Jadi Prioritas
Lemahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu masalah serius kaum Muslim saat ini. Masalah tersebut erat kaitannya dengan kebijakan dunia pendidikan. Sistem pendidikan, yang meliputi tenaga pendidik, kurikulum, sarana fisik, dan anggaran pendidikan menjadi hal yang tak bisa ditunda-tunda untuk segera dibenahi dan penuhi. Jihad melalui jalur pendidikan menuntut upaya-upaya yang kreatif dan inovatif sehingga relevan dengan kemajuan zaman. Dengan cara itu pula, kekeliruan dalam dakwah, terutama yang mengarah pada tindak kekerasan, dapat diminimalisasi. Berikut perbincangan Reporter CMM Yulmedia dengan Prof. Dr. Sidek Baba, Guru Besar Universitas Islam Antarbangsa Malaysia tentang tantangan pendidikan Islam dan pentingnya dakwah yang kreatif dan inovatif :Salah satu problem umat Islam saat ini adalah ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Anda, mengapa ini terjadi?
Terjadinya hal sedemikian ada latar sejarahnya. Kebangkitan peradaban Islam pada masa lalu ditandai dengan empat faktor yang saling menguatkan. Pertama, sinergi ulama dan umara berada ditahap terbaik dalam proses pengembangan ilmu dan pembangunan. Kedua, penguasaan ilmu secara integratif dan holistik, yaitu ilmu mengurus diri yang dijelaskan dalam fiqh ibadah (naqliah) dan ilmu sosial yang dijelaskan dalam fiqh muamalah (aqliah). Ketiga, tradisi pengaryaan yang hebat, karya yang variatif dan sifatnya otentik. Keempat, keterbukaan terhadap manfaat ilmu pengetahuan (ilman nafia’) dari peradaban lain. Faktor-faktor ini telah mampu mengangkat peradaban umat yang berlangsung lebih 600 tahun. Kini, umat Islam menjadi konsumen produk dan menghamba kepada kekuatan Barat. Ulama dan umara berada dalam kesenjangan. Ilmu dan pendidikan menjadi dualistik. Tradisi pengaryaan memberi fokus pada dasar-dasar fiqh dan ibadah ritual yang terbatas. Tidak memanfaatkan ilmu-ilmu Barat sebagai usaha perbandingan, sebaliknya menjadi “pengguna setia” ilmu dan paham sekular Barat.
Bagaimana pengamatan Anda terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini?
Lembaga-lembaga pendidikan Islam baik yang formal maupun tidak formal masih berkutat dalam kerangka tradisional. Struktur akibat penjajahan masih dominan. Kurikulum yang dibangun tidak artikulatif dan kreatif. Islamisasi ilmu tidak dijadikan fokus utama. Metodologi pengajaran dan pembelajaran masih dalam orientasi lama. Kesimpulannya, lahir generasi yang hanya mementingkan ritual agama, dangkal dalam pemikiran, dan gagal memberikan alternatif yang Islami. Umat Islam terus menjadi konsumen kekuatan dan model orang lain. Pesantren dan Institut Agama Negeri tidak transformatif. Pembaruan ilmu dan pendidikan tidak dijadikan agenda utama. Akhirnya, kaum Muslim berada antara kebekuan dalam tradisi intelektual dan perubahan mekanistik dalam arus globalisasi, bentuk penjajahan baru yang kini menguasai gaya hidup umat.
Apa yang harus dilakukan untuk mengangkat mutu suatu lembaga pendidikan Islam?
Pembaruan keilmuan dan pendidikan mutlak diperlukan. Falsafah pendidikan Islam berdasarkan tujuan yang jelas harus diungkapkan. Kurikulum yang integratif perlu dikembangkan. Ilmu ibadah ritual (naqliah) dan ilmu ibadah sosial (aqliah) harus berkembang seiring. Tradisi pengajaran dan pembelajaran tidak hanya dibatasi dengan metodologi hapalan semata. Tradisi berpikir kritis mesti diberlakukan. Kecenderungan berpikir (artikulasi) harus menjadi landasan keilmuan. Proses internalisasi harus diberlakukan. Dari situ akan lahir kesan penghayatan dalam pengilmuan dan pendidikan.
Sebagian lembaga pendidikan Islam dicurigai mengajarkan jihad dalam arti perang (kekerasan fisik ), mengapa demikian?
Pengajaran jihad harus dilihat dalam konteksnya. Jihad penting karena sifat Islam itu sendiri adalah merintis kemajuan dan perubahan. Ajaran Islam bersifat dinamis, bukan statis. Tujuan syariah memberikan dorongan kepada kita bahwa yang lebih penting pada masa kini ialah jihad ilmu. Zaman Abbasiyyah misalnya, jihad ilmu amat tinggi. Ia telah meninggalkan jejak pearadan yang hebat. Barat serta Timur berhutang ilmu kepada Islam. Islam adalah agama dakwah. Upaya dakwah dan tarbiyah harus ditingkatkan. Dakwah harus kreatif dan inovatif. Dakwah bukan sekadar kuliah dan ceramah. Dakwah adalah contoh dan kehidupan. Tidak ada jalan singkat untuk membangun Islam. Umat Islam terbangun hasil pemahaman ilmu, kekuatan rohaniah dan upaya strategi yang tinggi terhadap realitas. Lebih 400 tahun umat Islam dijajah memerlukan kekuatan ilmu dan keterampilan untuk mengubah keadaan. Semangat yang membakar akan padam selalunya tetapi ilmu yang hebat bakal mengakar dalam agenda perubahan.
Jihad tidak terpancar dalam nafsu amarah. Jihad adalah suatu kekuatan dimana ilmu menjadi dasar, hikmah menjadi motivasi, berpijak pada suatu strategi, dan bersabar dalam menyatakan kebenaran. Dasar ini penting supaya umat Islam dapat mengimbangi antara kekecewaan dan kemarahan yang tinggi dengan upaya pemikiran yang hebat dan didukung oleh sumber daya yang unggul, maka tujuan perjuangan akan dicapai.**(CMM)