Memperkuat Jaringan Terorisme di Indonesia?
Sejak akhir pekan lalu atau di pertengahan Juni 2007, jajaran Polri mengaku berhasil melakukan penangkapan terhadap teroris paling dicari dan berbahaya di Indonesia, Abu Dujana.
Penangkapan Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah, diprediksi Polri akan memperlemah jaringan terorisme di Indonesia. “Dengan penangkapan itu, maka dipastikan aksi mereka melemah apalagi yang tertangkap ini orang penting,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Polisi Sisno Adiwinoto.
Sisno mengungkapkan, Abu Dujana sebenarnya lebih berbahaya dibandingkan Nurdin M Top yang kini masih buron dan Azahari yang telah tertembak mati di Batu, Malang, Jawa Timur. ”Kalau sebelumnya yang berbahaya adalah Nurdin, tapi berdasarkan keterangan yang diperoleh maka Abu Dujana lebih berbahaya lagi,” kilahnya.
Bisa jadi, lanjut Sisno, nantinya polisi akan menemukan orang yang lebih berbahaya lagi daripada Abu Dujana. Sebelumnya, Polri menangkap Yusron di Banyumas, dan ternyata ia adalah Abu Dujana. Terungkapnya identitas Abu Dujana itu memerlukan waktu beberapa hari karena warga kelahiran Cianjur, Jawa Barat 1969 ini memiliki banyak nama lain, di antaranya Pak Guru, Mas’ud, Ainur Bahri, Sorim, Sobirin, dan Dedi.
Pada Selasa, 12 Juni lalu, Pemerintah Australia dan beberapa media di negara itu telah menyebutkan bahwa Yusron adalah Abu Dujana. Namun Polri membantahnya dan sehari setelahnya barulah Polri merilis bahwa Yusron adalah Abu Dujana.
Selain menangkap Abu Dujana, Polri juga menangkap tujuh orang teman dekatnya di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tetapi, Sisno belum menyebutkan identitas dan lokasi penangkapan karena keterangannya masih diperlukan untuk menangkap tersangka lain dan mencari barang bukti. “Abu Dujana dan tujuh tersangka lain masih dibawa anggota polisi yang saat ini terus bergerak di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta,” katanya.
Polri berjanji akan memberikan keterangan lebih detail setelah keterangan yang valid dapat diperoleh dari tim penyidik. Abu Dujana diduga ikut menyembunyikan bahan peledak di Gresik, Jawa Timur, menyembunyikan tersangka bom Marriott, aksi terorisme di Poso, dan beberapa peledakan bom termasuk bom Bali I.
Penangkapan Abu Dujana ini merupakan kelanjutan dari penangkapan para tersangka di Sleman, Yogyakarta,akhir Pebruari 2007 lalu. Dari keterangan tersangka yang tertangkap, polisi menemukan rumah persembunyian Yusron yang tidak lain adalah Abu Dujana.
Namun mantan Direktur Bakin AC Manullang menegaskan, potensi teror justru makin membesar dengan tertangkapnya Abu Dujana. ”Penangkapan ini justru mengarah ke pembengkakan. Perkembangan teroris akan makin menonjol seiring banyaknya masyarakat miskin dan bencana,” tegasnya.
Kondisi tersebut akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengadu domba umat Islam di Indonesia. Australia diduga punya peranan besar. Bahkan Manullang menduga Abu Dujana adalah figur yang sengaja diciptakan Australia. Sebab tiba-tiba dia menjadi orang yang paling dicari karena dianggap lebih bahaya dibandingkan Noordin M Top.
“Lebih celaka kalau ini menyangkut perang intelijen. Australia itu paling getol mengobok-obok Indonesia. Bagaimana caranya? Laporan intel mereka di sini, yang paling gampang ditunggangi itu terkait masalah Islam. Kalau Islam di Indonesia bisa dibakar, maka gampanglah mereka menguasai Indonesia,” beber Manullang.
Zamannya dulu, imbuh Manullang, orang-orang yang baru datang dari Libya tidak pernah luput dari perhatian intel. Karena itu, dia merasa aneh jika Abu Dujana yang dikabarkan sempat mengenyam pendidikan di Afghanistan tidak terdata di intel Indonesia. “Padahal ada ratusan orang Indonesia yang dididik di Afghanistan. Aneh kalau Indonesia tidak tahu, tapi Australia tahu,” ujarnya.
Manullang, menilai, penangkapan Abu Dujana adalah operasi intelijen yang memalukan. Jika Polri memiliki informasi intelijen yang akurat, sejak awal mestinya mereka sudah tahu bahwa Yusron adalah teroris yang paling diburu. Manullang juga minta Polri tidak mudah membuka informasi intelijen ke publik karena dampaknya banyak orang yang ketakutan. ”Yang enak Amerika kerena berhasil mengidentikkan teroris dengan Islam.”
Kapolri Jenderal Polisi Sutanto menyatakan, pihaknya terus mengembangkan kasus terorisme, menyusul penangkapan delapan orang yang diduga teroris, termasuk Abu Dujana. ”Anggota jaringannya masih terus dilacak, karena kegiatan terorisme tidak mengenal batas wilayah,” katanya.
Sementara itu, keberhasilan Polri membekuk tersangka berbagai aksi teror, Abu Dujana, dipuji Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Terorisme harus diberantas karena termasuk dalam kejahatan kemanusiaan yang besar. Namun, Din mengingatkan agar langkah Polri memberantas terorisme dilakukan secara seksama dan jangan menyinggung simbol keagamaan. ”Bila itu terjadi, dapat mengirimkan pesan buruk dan menimbulkan reaksi yang tidak perlu dari umat beragama,” ujarnya.
Din mengakui, aksi teror dan pelaku teror tidak bisa lagi ditutupi di Indonesia. Kondisi tersebut sebenarnya sudah sejak lama terjadi dan kebetulan pelakunya Muslim. Hanya, dia mengharapkan kepada penegak hukum dan pihak mana pun, termasuk pers, untuk tidak mengaitkan kelompok teroris dan agama, khususnya Islam. ”Karena tidak ada hubungannya. Itu saja,” cetusnya.
Sangat penting bagi kepolisian, kata Din, memperhatikan hak asasi manusia (HAM) dalam melakukan penangkapan atau tindakan lainnya terhadap para pelanggar hukum. Sikap dasar Muhammadiyah yang layak dipakai pihak lain adalah tidak mengaitkan aksi terorisme dengan Islam.
Disinggung penyebab terjadinya teroris, Din menduga kemungkinan adanya benturan peradaban, hingga masalah ekonomi. Karena itu, ujar dia, persoalan tersebut harus menjadi perhatian bangsa-bangsa di dunia, yakni dengan melakukan kerja sama, dan kemitraan. ”Alhamdullilah pada 2005 lalu, PBB telah mengesahkan sebuah aliansi peradaban,” ungkapnya.
Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, meminta seluruh tindakan Polri tetap mengacu pada prosedur yang diatur UU, baik terkait pemberantasan terorisme ataupun tidak. Ini karena tindakan Polri bukan bertujuan menghadirkan teror baru. ”Polri harus tetap mengedepankan aspek hukum dan HAM. Jangan sampai melakukan tindakan yang melanggar HAM,” katanya.
Selain itu, keterlambatan Polri mengklarifikasi Yusron sebagai Abu Dujana ke publik menjadi bukti jeleknya koordinasi antara Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN). Ironisnya justru Menlu Australia, Alexander Downer, yang mengungkap fakta itu lebih dulu. ”Sangat disayangkan informasi tertangkapnya Abu Dujana malah diumumkan negara lain. Ini tentu sesuatu yang menyedihkan. Untuk hal seserius ini tak ada koordinasi antara Polri dan BIN, sehingga di dalam negeri simpang siur. ((CMM))
Incoming search terms:
- penangkapan abu dujana oleh badan intelejen negara