Petinggi Partai Golkar Surya Paloh dan petinggi PDI Perjuangan Taufiq Kiemas bertemu di Medan dalam satu acara silaturahmi kemarin. Acara itu disebut-sebut merupakan langkah awal menuju tahapan selanjutnya, yaitu Pilpres 2009. Pertemuan ini sah-sah saja. Apalagi dalam konteks politik. Sudah seharusnya pimpinan partai mengadakan pendekatan dengan partai-partai lainnya untuk mengalang kesatuan visi dan misi menuju Pilpres.Namun yang menarik, Aliansi Nasionalis Kebangsaan yang digagas para tokoh partai Golkar-PDIP benar-benar memberi warna baru dalam kehidupan politik. Aliansi ini muncul di tengah kelesuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak diragukan bahwa aliansi mempunyai mandat yang relatif kuat. Hal di atas didasarkan kepada fakta bahwa PDIP sejauh ini masih merupakan partai yang solid, kendatipun perolehan suara dalam Pemilu 2004 turun menjadi 19% sedangkan pada Pemilu 1999 meraih 45%. Memang beberapa eksponen telah keluar dari PDIP dan membentuk partai baru, namun sebegitu jauh belum mampu menandingi pengaruh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
Sebaliknya, Golkar merupakan partai politik yang dibangun oleh berbagai faksi dengan basis kekaryaan dan sekuler. Keragaman ini membawa kekuatan sekaligus kelemahan. Meskipun begitu pengalaman menunjukkan, para politikus yang mengelola Golkar sangat andal hingga kelemahan itu tidak terbawa keluar. Mereka ribut di dalam tetapi kompak keluar. Keretakan yang tampak dalam Golkar belakangan ini adalah antara mereka yang berlatar belakang pendukung Akbar Tandjung dengan mereka yang menggesernya dalam pemilihan Ketum Golkar di Denpasar, Bali. Apakah para pendukung Akbar Tanjung itu akan terus mempertahankan kesetiaannya kepada Golkar, atau kelak menyeberang ke Barisan Rakyat Indonesia, di mana Akbar menjadi ketua dewan pembina? Kita melihat para pendukung Akbar adalah kelompok yang sangat realistis. Mereka mungkin akan tetap dalam Golkar tetapi tetap mempunyai hubungan kuat dengan Barisan Rakyat Indonesia. Pola seperti ini lazim karena mereka masih melakukan hal serupa dengan parpol-parpol lain. Mereka mengandalkan kesamaan basis keormasan, di mana mereka pernah menjadi anggotanya sebelum bergabung dengan partai politik.
Terlepas dari semua itu, pernyataan Taufiq Kiemas dan Surya Paloh menunjukkan pembentukan aliansi telah diketahui internal masing-masing partai. Taufiq menyebut proses pembentukan aliansi telah berjalan selama dua tahun. Puncak simboliknya adalah ketika Ketua Dewan Pertimbangan PDIP itu bertemu dengan Wapres/Ketum Golkar Jusuf Kalla dalam acara yang digelar mantan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Timur Sjaifullah Jusuf, di Kramat Raya, Jakarta beberapa waktu lalu.
Dukungan internal kedua partai diperkokoh dengan kenyataan bahwa PDIP dan Golkar mempunyai platform yang relatif sama yakni menjaga keutuhan NKRI serta kemajemukan bangsa. Kedua partai juga dengan cemas memandang telah berlangsung kemerosotan nilai-nilai kebangsaan dan patriotisme. Kita berharap aliansi yang dibangun PDIP-Golkar adalah aliansi yang jujur untuk memperbaiki nasib bangsa, bukan sekedar menyelamatkan citra partai dan tidak untuk menghadang laju SBY di 2009. (***)