Pasca Ombak Besar Nelayan Pessel Masih Takut Melaut

PADANG-Ternyata peristiwa yang menimpa KM Tarusan Jaya Minggu 17 Juni lalu mengakibatkan belum ditemukannya 13 awak kapal nelayan itu, semakin membuat nelayan mengurungkan niatnya turun ke laut.Alasannya, selain cuaca sejak beberapa hari terakhir sangat buruk, peristiwa yang sama takut terjadi juga. Dari pembicaraan Singgalang dengan Nofri, salah seorang nelayan Painan, menuturkan, sebenarnya nelayan tidak rutin lagi melaut sudah berlangsung lama, tetapi sejak dua minggu terakhir bisa dikatakan tidak bisa sama sekali. Karena dalam kondisi sekarang mengadu nasib di laut, tidak lagi menguntungkan.

Melihat ramalan bintang di langit yang dipelajari secara alami, untuk beberapa hari kedepan tiupan angin sangat kencang yang disertai alunan ombak besar. “Berdasarkan ramalan itu, makanya kami tidak berani turun ke laut. Ditambah lagi adanya peristiwa hilangnya 13 orang nelayan Tarusan yang diperkirakan tempat kejadian sekitar Pulau Penyu, sehingga kami dengan nelayan lain untuk sementara waktu menunda keberangkatan,” ungkap bapak dua anak itu.

Selain cuaca yang menjadi alasan, ternyata hasil tangkapan pun tidak menggembirakan. Karena, lanjut Nofri, praktik illegal fishing seperti bom dan potash masih marak. Kondisi tersebut membuat terumbu karang dan biota laut lainnya rusak.

Dampaknya, ikan jadi berkurang karena terumbu sebagai tempat bermain dan makanan ikan sudah berangsur-angsur hilang. Untuk itu diharapkan pada instansi terkait agar dapat mencegah ulah orang-orang yang tidak bertang­gungjawab itu

Bayangkan, kapal bagan untuk satu kali turun ke laut biaya operasional yang dikeluarkan cukup besar, berkisar Rp250.000,- hingga Rp300.000,- dengan jumlah Anak Buah Kapal (ABK) minimal enam orang. Nofri menambahkan, untuk daerah Painan dan Taluak Batuang, Kecamatan IV Jurai, terdapat sekitar 60 unit kapal bagan yang mempe­kerjakan ratusan nelayan.

Kini kapal-kapal itu hampir seluruhnya mangkal dan tidak mencari ikan, sementara kebutuhan keluarga setiap hari terus mendesak, mau tak mau harus dicukupi. “Dari pada merugi, sedangkan cuaca tidak menguntungkan, lebih baik kami tidak melaut. Sedangkan pada kondisi sekarang uang sangat susah didapatkan,” jelas Nofri.

Sejak tidak lagi melaut, para nelayan agak susah dalam menghidupi keluarga. Laut sebagai sumber kehidupan tidak lagi menjanjikan, sehingga para nelayan ada yang hutang sana-sini dan sebagian lagi ada yang mencari usaha lain.(n sgl,mel)

This entry was posted in Sumbar. Bookmark the permalink.

Comments are closed.