Nasib Guru Bantu di Riau

Ruspan: Tak Layak Digaji Rp800 Ribu Sebulan

PEKANBARU – Mundurnya sebanyak 116 orang Guru Bantu Daerah (GBD) yang telah diangkat Pemerintah Provinsi Riau seharusnya menjadi pelajaran serius untuk lebih memperhatikan kesejahteraan para guru. Pasalnya, alasan mundur para guru yang hanya digaji Rp800 ribu sebulan dan tempatnya di daerah terpencil itu dinilai masuk akal, karena tidak sebanding dengan kondisi yang mereka hadapi di daerah. Sementara guru lainnya yang ditempatkan di perkotaan dengan banyak kemudahan mendapatkan penghasilan lebih besar.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi B DPRD Riau H. Ruspan Aman, Rabu (25/7), yang juga pernah menjadi guru di tahun 1985 di daerah terpencil di Riau dalam menyikapi kasus mundur ramai-ramainya para guru bantu tersebut.

Menurut Ruspan, hal ini dikhawatirkan akan berimbas tidak tercukupinya jumlah guru di daerah-daerah jika kejadian ini membuat para guru lainnya ikut mengambil langkah sama.

“Walau bagaimanapun kesejahteraan guru itu penting diperhatikan. Bukan hanya kurang, tapi selama ini juga kerap terlambat dibayarkan. Kasus-kasus ini hendaknya bisa dicarikan solusinya dengan kembali melakukan pendekatan kepada guru-guru itu,” kata Ruspan.

Tidak memadainya gaji Rp800 ribu itu untuk para guru bantu di daerah, turut diakui oleh Kepala Dinas Pendidikan Riau HM Wardan, saat ditemui selepas menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi D DPRD Riau. Namun pihaknya sudah berusaha dan sebaliknya penempatan di daerah sudah menjadi konsekwensi kesepakatan awal untuk ditempatkan di daerah mana saja. “Jumlah itu memang tidak cukup, makanya kita juga minta agar ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten dan Kota di Riau ikut memperhatikan guru bantu ini karena mereka juga berjasa untuk pendidikan di daerah,” kata Wardan.

Sejauh ini ungkap Wardan, Pemprov belum bisa memberikan banyak dana dan sejak tahun 2005 lalu sudah mulai memberikan bantuan Rp500 ribu kepada para guru di daerah terpencil namun yang berstatus PNS.

Sebagai salah satu solusi agar ketersediaan guru di daerah tetap terpenuhi, Dinas Pendidikan Riau, kata Wardan, akan lebih mengutamakan putra daerah tempatan untuk diangkat sebagai guru sehingga lebih bisa menerima keadaan sekaligus mengabdi kepada daerah mereka.

Ruspan Aman menambahkan, para guru manapun jika kesejahteraannya dijamin selama bertugas akan bersedia ditempatkan di mana saja, meskipun di sisi lain mereka juga dituntut memiliki rasa pengabdian dan hati nurani menjadi seorang pendidik. Minimal gaji guru honor itu katanya, Rp1,5 juta dan logikanya lebih besar dari guru di daerah perkotaan.

Selain itu Ruspan juga mantan dosen ini, menilai sampai saat ini belum ada kejelasan data-data para guru bantu itu dan jumlah guru se-Riau dari SD hingga SMA sehingga diduga banyak guru lainnya tetap hidup dengan keterbatasan.

Dalam pemberitaan Riau Mandiri sebelumnya disebutkan sebanyak 116 guru bantu yang diangkat Pemprov Riau tahun 2005 dan 2006 memilih mundur. Hal ini secara tidak langsung sebagai bentuk protes mereka atas kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan sebagai guru di daerah terpencil. (yon)

Incoming search terms:

  • data guru bantu rokan hilir
  • gbd provinsi riau 2006
  • info ttg guru bantu riau
  • Nasib GBD inhil
This entry was posted in Pekanbaru. Bookmark the permalink.